MALANG - Dirintis sejak 2004 produk madu Kembang Joyo selama 18 tahun telah menjadi pilihan masyarakat, produsen produk perlebahan asli Indonesia, tepatnya di Karangploso Kabupaten Malang itu terus berkembang pesat. Selain meningkatkan kesadaran masyarakat tentang produk, Kembang Joyo juga menargetkan tahun ini bisa membangun kampung wisata di seluruh Indonesia.
Owner dan Komisaris Kembang Joyo Group Dr Dewi Masyithoh SP MPt menceritakan alasan dirinya menggeluti usaha madu. Ia menyebutkan sejak dulu madu dikenal dengan istilah asli atau palsu. Sama halnya dengan semua barang mewah yang selalu ditanya adalah asli atau palsu. ”Artinya madu ini adalah barang mewah, yang sangat wajar untuk dipalsukan. Berlatarbelakang inilah saya tidak ingin jualan madu saja, namun harus diikuti sumber madunya dari mana. Atau saya menyebutnya scientific bee keeping, hingga saat ini menjadi motto Kembang Joyo,” katanya.
Peternakan berbasis ilmu pengetahuan inilah yang dikembangkan madu Kembang Joyo. Sebab, Dewi meyakini bahwa pada dasarnya madu tak bisa hanya disebut ’madu’, karena ada proses pengambilan di belakangnya yang cukup rumit. Misalnya, jika lebah mengonsumsi jenis nektar randu maka ini disebut madu randu, begitu seterusnya. Sebab setiap madu dengan nektar berbeda akan menghasilkan manfaat yang berbeda pula.
”Saat ini ada 16 varian madu dari berbagai nektar asli tanpa dicampur. Sementara madu dari nektar yang dicampur dengan royal jelly dan beepolen total ada 72 varian,” ungkapnya.
Dosen Peternakan Unisma itu menyebut kesulitan menjual madu dengan banyaknya varian. Tentu lebih mudah berjualan hanya dengan sebutan ’madu’ saja. Karena hal itu tidak membingungkan konsumen. ”Namun kembali lagi, saya ingin mengedukasi masyarakat bahwa madu dengan nektar yang berbeda itu manfaatnya juga berbeda. Pun saya memperkenalkan nama botanical madu (dari nektar tanaman asalnya),” tegasnya.
Selain motto scientific beekeeping yang dijunjung, Madu Kembang Joyo juga terus meningkatkan standar kualitas. Tak heran, jika Kembang Joyo sudah mengantongi beberapa sertifikat. Mulai dari Halal, PIRT, NKV dan perizinan lainnya yang sedang dalam proses.
Dewi juga mengklaim madu Kembang Joyo ini memproduksi paling banyak varian dibandingkan merek lainnya. Pun peternakannya juga paling besar di Indonesia. ”Kami mengambil madu dari penggembalaan lebah di seluruh Indonesia. Saat ini kami juga bermitra dengan kurang lebih 150 petani lebah di seluruh Indonesia,” ucapnya.
Karena berasal dari berbagai wilayah, Dewi juga harus menyatukan standar madunya melalui standarisasi teknologi hasil (termasuk ada SOP) sehingga keluar satu standar. Ia menyebutkan meskipun varian madu sama, namun rasanya belum tentu sama karena penggembalaannya di wilayah yang berbeda.
”Selain penyatuan standar, Kembang Joyo juga menyiapkan madu kualitas Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar Internasional (SI). Misalnya dari sisi zat yang terkandung di dalamnya, untuk SNI minimal di dalamnya terdapat 3 enzim, sedangkan SI mininal 5 enzim. Pun dari sisi sistem panen dan penggembalaannya juga berbeda. Tentu kebermanfaatannya juga berbeda,” jelasnya.
Dalam pengembangannya, peternakan Kembang Joyo tak hanya memiliki produk madu, namun berkembang ke produk lainnya. Mulai dari Royal Jelly dan Bee Pollen. Bahkan awal 2000-an, peternakan juga mulai memproduksi Propolis dan Cuka Madu. ”Selanjutnya kami juga bakal mengembangkan produk madu ke produk kecantikan. Seperti sabun, hand body dan lainnya,” paparnya.
Dengan berdasar scientific, Dewi menargetkan akan membangun wisata edukasi di seluruh kota besar. Mulainya dari Malang, yang targetnya selesai pada akhir 2022. ”Kami akan mengembangkan 1/2 hektar bekerjasama dengan lahan desa untuk membuat wisata edukasi peternakan lebah berbasis industri. Jadi the real industri tapi terbuka untuk umum. Pun 2023 kami juga akan membangun wisata edukasi di lahan 105 hektar, namun akan bangun dulu sekitar 8 hektar di Palembang. Termasuk membangun farm sumber pakannya juga sudah mulai,” tandasnya.
Dari sisi pemasaran madu di outlet, Dewi menargetkan di 2022 ini bisa masuk di 500 mall seluruh Indonesia. Saat ini pihaknya sudah memiliki 272 outlet. Termasuk di Carefour, Transmart dan Hypermart di seluruh Indonesia. ”Termasuk di Superindo, apotik, Indomaret dan Alfamart, kami bisa masuk di 2023 ini,” harapnya. (bin/dik) Editor : Didik Harianto