SURABAYA – Pengiriman kepingan kartu atau blangko E-KTP dari pemerintah pusat jauh berkurang beberapa waktu terakhir.
Pemkot Surabaya pun memberikan prioritas untuk generasi Z yang baru melakukan perekaman data E-KTP.
Kabid Pemanfaatan Data dan Inovasi Pelayanan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya Ivan Wijaya mengungkapkan, jumlah blangko yang dimiliki dispendukcapil terbatas.
Biasanya dispendukcapil menerima minimal 20 ribu setiap bulan dari pemerintah pusat.
Kini, yang diterima maksimal hanya enam ribu blanko.
”Akhirnya, kepala dinas kami mengambil kebijakan untuk memprioritaskan pemilih pemula dan pindah datang untuk blangko E-KTP. Sisa nya IKD,” ujarnya kemarin.
IKD atau identitas kependudukan digital memang menjadi salah satu solusi atas kelangkaan blangko itu.
Hingga 14 Oktober, capaian aktivasi IKD di Surabaya sekitar 380 ribu atau hampir 20 persen dari total wajib E-KTP tahun ini.
Dispendukcapil terus mempercepat IKD dengan berkolaborasi kecamatan dan kelurahan.
Juga program jemput bola ke sekolah hingga institusi.
”Semua warga yang datang ke kelurahan, kecamatan, maupun ke kantor Siola untuk mengurus administrasi kependudukan (adminduk) diarahkan untuk aktivasi IKD,” katanya.
Terpisah, Camat Gubeng Eko Kurniawan Purnomo mengatakan, strategi untuk mencapai target aktivasi IKD di wilayahnya dengan cara mendampingi kelurahan membuat jadwal untuk mengundang warga melalui RT dan RW.
Warga yang diundang diarahkan untuk mengaktivasi IKD.
”Termasuk perekaman e-KTP pemula. Kami berharap secepatnya seluruh penduduk di Kecamatan Gubeng sudah mempunyai IKD,” katanya.
Aktivasi IKD di Gubeng termasuk paling tinggi untuk kawasan Surabaya timur.
Data terkini sudah 20.295 warga yang mengaktivasi IKD.
Berikutnya Tambaksari sebanyak 19.724 orang. (ayu/jun/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana