SURABAYA – Perolehan dari pembayaran parkir nontunai di Surabaya menunjukkan lonjakan pesat.
Hingga Oktober lalu, terdapat 21.450 transaksi parkir cashless dengan total pendapatan Rp 121 juta.
Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan tahun lalu.
Saat itu, tercatat ada 2.043 transaksi senilai Rp 10 juta.
Naik 12 kali lipat dari capaian tahun lalu.
Kasubbag TU UPT Parkir Dishub Surabaya Pradana Affan Abdillah menyatakan, pencapaian itu menunjukkan masyarakat mulai terbiasa dengan sistem pembayaran nontunai.
’’Kalau realisasi dari target memang masih jauh, tapi trennya terus naik,’’ ujarnya kemarin (31/10).
Meski begitu, Dishub Surabaya masih menghadapi tantangan.
Masyarakat di beberapa titik khusus parkir (TKP) dan tepi jalan umum (TJU) masih cenderung membayar dengan uang tunai.
’’Kami melakukan evaluasi dan sosialisasi, terutama di kawasan balai kota dan Taman Bungkul,’’ katanya.
Affan menyebut bahwa transaksi nontunai berpotensi mempersingkat waktu transaksi jika jaringan seluler dan sistem di lokasi berjalan lancar.
’’Cukup dengan scan QRIS atau e-money, petugas tidak perlu berlama-lama memberikan uang kembalian,’’ jelasnya.
Dishub menilai sistem cashless itu tidak hanya efisien, tetapi juga lebih aman dalam mengelola pendapatan parkir.
Semua retribusi parkir langsung masuk ke kas daerah tanpa melalui juru parkir sehingga bisa mengurangi potensi kebocoran pendapatan asli daerah.
’’Dengan evaluasi, kami melihat sistem ini berkontribusi pada transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan parkir,’’ kata Affan.
Penerapan parkir cashless dimulai pada 2017 dengan pemasangan parkir meter pertama di Balai Kota Surabaya dan Taman Bungkul.
Tempat khusus parkir mulai menggunakan sistem cashless pada 2021.
Khusus parkir di jalan umum berlaku Februari tahun ini. (dho/ai/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana