SURABAYA – Cuaca tak menentu saat pancaroba meningkatkan risiko beraktivitas di laut, khususnya di Surabaya.
BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya mengingatkan kondisi itu akan berlangsung hingga pertengahan November.
Cuaca panas yang tiba-tiba berubah menjadi hujan deras disertai angin kencang di Surabaya menjadi ancaman bagi nelayan dan warga di pesisir.
’’Selain hujan, kecepatan angin mencapai 18 knot, jauh di atas batas normal 5-10 knot,’’ jelas Koordinator Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Ady Hermanto.
Menurut dia, hujan lebat umumnya terjadi siang hingga sore.
Masyarakat diimbau untuk berhati-hati, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Angin kencang berpotensi menumbangkan pohon serta menimbulkan gelombang laut tinggi yang membahayakan nelayan.
Ketua Paguyuban Nelayan Tambak Sarioso Purnomo, mengatakan, dalam seminggu terakhir cuaca laut memang terik.
Namun angin semakin kencang sehingga gelombang laut naik hingga satu meter.
Untuk mencegah kecelakaan, para nelayan selalu memantau kondisi cuaca sebelum melaut melalui papan informasi cuaca.
’’Kami fleksibel. Jika cuaca memburuk, kami tak akan memaksakan diri untuk melaut,” ujarnya kemarin (6/11).
Sementara itu, Kepala BPBD Surabaya Agus Hebi Djuniantoro mengatakan, Surabaya memiliki 7 pos terpadu dan 77 pos pantau yang tersebar di seluruh wilayah.
Di kawasan Surabaya utara, pos terpadu ada di Jalan Rajawali.
BPBD juga berkolaborasi dengan dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Perhubungan (Dishub), dan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM).
Patroli di perairan juga ditingkatkan.
BPBD melarang aktivitas renang di laut, terutama di area bawah Jembatan Suramadu.
Pasalnya, pekan lalu, video yang menunjukkan adanya buaya di sekitar Jembatan Suramadu sempat viral di media sosial.
’’Kami telah lakukan penyisiran. Namun buaya tersebut belum ditemukan. Sebagai peringatan, kami akan memasang papan informasi mengenai potensi keberadaan buaya di area Jembatan Suramadu,’’ jelasnya. (ian/ai/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana