Beraksi sejak 2017, Diduga Ratusan Model Jadi Korban
SURABAYA – Perjalanan S dan N menjadi agensi model iklan harus berakhir.
Keduanya ditangkap anggota Direktorat Reserse Siber Polda Jatim di salah satu gudang di Gresik pada Kamis (19/12) petang.
Gudang tempat mereka ditangkap adalah lokasi keduanya mengadakan casting fiktif disertai perekaman adegan tak senonoh.
Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Dirmanto mengatakan, korban casting fiktif berbau pornografi itu diperkirakan mencapai ratusan orang.
Namun, hingga kini yang melapor polisi baru lima orang.
”Kami mengimbau masyarakat yang menjadi korban silakan melapor. Kami akan tindak lanjuti dan korban betul-betul akan kami tindak lanjuti,” ujar Dirmanto kemarin (20/12).
Dirmanto menambahkan, setelah casting pertama di gudang kawasan Gresik, kedua pelaku melanjutkan casting di apartemen di Surabaya.
”Saat para korban yang mengikuti casting sedang ganti pakaian, ada kamera tersembunyi yang merekam,” ungkap dia.
Korban baru tahu bahwa mereka direkam saat ganti baju ketika mendapat informasi videonya banyak beredar di media sosial Telegram dan X.
Ternyata, para pelaku diam-diam memperjualbelikan video rekaman tersebut.
Menurut Dirmanto, kedua pelaku akan dijerat dengan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik terkait pornografi.
”Kejadian sejak 2017 hingga 2023. Korban ratusan orang dari berbagai latar belakang. Sekarang pelaku kami periksa intensif. Senin atau Selasa (pekan depan) akan kami rilis,” ujarnya.
Dirmanto menambahkan, pengusutan kasus ini bermula dari laporan GN, model asal Surabaya yang menjadi korban.
GN ketika itu mengikuti casting pada 2017.
Dia curiga dan menduga ada kamera tersembunyi yang merekamnya saat ganti baju. Lantas menutupinya.
Namun, dia masih merasa tidak nyaman.
Dia menduga ada kamera lain yang merekamnya saat ganti baju.
GN dua kali mengikuti casting.
Pertama, di gudang kawasan Gresik.
Kedua, GN dihubungi pelaku bahwa dirinya lolos casting tahap kedua dan diminta casting lagi di apartemen Surabaya Barat.
Di apartemen itu, dia diduga direkam diam-diam saat ganti baju.
Dia baru tahu tahun lalu saat mendapat kabar dari korban lain bahwa banyak video mereka sedang ganti pakaian beredar di media sosial.
Sebelumnya, GN mengungkapkan, jual beli video diawali dari pemasangan cuplikan maupun potongan gambar pada media sosial X.
Setelahnya, para pengguna akan diarahkan ke Telegram untuk pembelian video dengan durasi lebih panjang.
Rentang harga video yang diperjualbelikan mulai Rp 150 ribu hingga Rp 3,5 juta.
Video-video tersebut menampilkan tayangan para peserta casting iklan palsu berpose sensual.
Selain itu, video juga merekam prosesi ganti pakaian para pemeran menggunakan kamera tersembunyi.
Hal tersebut menimpa sejumlah teman GN.
”Teman-teman saya di Surabaya saat itu banyak sekali yang menjadi korban,” terangnya. (gas/c19/jun/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana