Puluhan koleksi gaun tertata rapi di galeri kebaya Keraton Jawi, yang berlokasi di Jalan Kartini, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Ada kebaya untuk fashion show.
Ada pula kebaya yang khusus didesain untuk acara pernikahan.
Mayoritas kebaya di sana menonjolkan sisi elegan dan mewah.
Kombinasi kain dengan payetpayet membuat beberapa kebaya berkilauan memantulkan sinar lampu.
Di fitting room yang tak jauh dari pintu masuk, terpajang satu kebaya yang membalut manekin.
Kebaya berwarna hitam itu dibuat sangat detail.
Payet berwarna hijau dan merah ditempelkan.
Jika didekati, payet tersebut memantulkan cahaya cukup tajam, sehingga menambah kesan mewah.
Gaun yang telah dipesan dan disewa untuk acara pernikahan tersebut dibanderol dengan harga Rp 35 juta.
Nominal itu untuk penyewa pertama.
”Karena memang semua bahannya premium,” tutur Rangga P. Soekarto.
Sejak 2015, pria kelahiran Pasuruan tersebut mulai menyeriusi bisnis desain dan sewa kebaya.
Pasarnya yakni warga warga kelas menengah ke atas.
Sebelumnya, sejak 2011 lalu, Rangga bekerja di salah satu bank di Kota Malang.
”Saya mulai bisnis ini karena dibantu adik,” tutur pria kelahiran 1988 tersebut.
Dia sudah hobi menggambar sejak SD. Dan, mulai SMA, Rangga banyak membuat desain baju.
Sejak saat itu, orangorang terdekatnya sudah menyukai desain baju bikinannya.
Itu dibuktikan dari permintaan beberapa temannya untuk didesainkan kebaya.
Hingga saat berkuliah, pria lulusan program studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut mencoba untuk menyewakan kebaya untuk wisuda.
Hasilnya, cukup banyak yang menyewa ke tempatnya.
Namun saat itu dia belum menyeriusinya sebagai bisnis.
Sebab, orang tuanya belum setuju.
”Karena dianggap pekerjaan cewek ya. Selain itu khawatir tidak laku juga karena bahan yang kubeli terlalu mahal,” kisah dia.
Berdasar alasan itulah, dia kemudian melanjutkan karier sebagai karyawan bank.
Selama menjadi karyawan, dia tetap rutin mengikuti fashion show. Dari sana lah dia semakin dikenal. Karya karyanya juga makin banyak diakui.
”Setelah itu keluarga selalu memberi support,” kata dia.
Meski saat ini bisnisnya sudah berkembang dan memiliki banyak klien, Rangga tetap memilih bekerja di bank.
Menurut dia, banyak sekali ilmu manajemen bisnis yang bisa dia pelajari.
Selanjutnya diadopsi untuk mengembangkan bisnisnya.
Terutama dalam hal pengembangan SDM.
”Itu tidak bisa saya pelajari kalau murni jadi pengusaha (saja),” imbuhnya.
Salah satu contohnya yakni sistem pemberian bonus.
Lalu, juga penempatan pegawai sesuai job desknya.
”Jadi bisa belajar memosisikan diri jadi karyawan, bos, dan owner bagi usahaku,” tambahnya.
Dengan kesibukan tersebut, dia harus pandai membagi waktu.
Saat bekerja sebagai karyawan bank, dia hanya meluangkan waktu untuk mendesain dan mengecek hasil garapan di penjahit.
Sementara saat akhir pekan, dia selalu menyusun jadwal untuk bertemu klien.
Dari sana, bisa disusun jadwal menentukan desain dan fitting baju.
”Yang pasti saat jam kantor, saya hanya fokus pekerjaan di kantor,” kata Rangga.
Awalnya, galeri miliknya berada di rumah kontrakan yang berlokasi di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang.
Di kontrakan yang cukup sempit itulah dia menggarap pesanan dari klienklien seperti Momo Geisha dan beberapa pemenang ajang pageant Putri Indonesia.
Desain-desain karyanya disukai karena memiliki ciri khas yang berbeda dan lebih eksklusif.
Namun, tetap mempertahankan pakempakem kebaya.
Selama ini, ada dua pakem kebaya yang sering jadi patokan desainer.
Yakni pakem Jogjakarta dan Solo.
Namun, kebanyakan pengantin di Jawa Timur memilih untuk memakai kebaya Solo.
Alasannya karena terkesan lebih kalem dan luwes.
Berbeda dengan Jogjakarta yang memiliki kesan lebih tegas.
Sebagai desainer kebaya, dia harus pandai mengombinasikan potongan sesuai pakem kebaya dengan trentren desain yang modern.
Namun yang selalu membedakan desainnya dengan kebaya lain adalah finishing di bagian payet.
”Detail selalu yang jadi utama,” tuturnya.
Untuk inspirasi desain, dia lebih banyak meniru alam.
Seperti perpaduan bulu hewan seperti burung atau warna landscape pemandangan.
Beberapa juga meniru batubatu alam.
Dengan detaildetail yang beda, desainnya diminati sejumlah public figur.
Terakhir, kebayanya dipakai musisi Keisya Levronka pada video klip terbarunya yang berjudul ”Bahagia Tanpaku”. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana