SURABAYA – Para orang tua harus lebih ketat dalam mengawasi kegiatan sang buah hati.
Jika lengah sedikit, anak bisa saja bermain dan kecanduan judi online (judol).
Hal itu bukan omong kosong semata.
Psikiater RSUD dr Soetomo dr Soetjipto SpKJ(K) mengungkapkan telah beberapa kali menangani pasien anak yang ketergantungan dengan judol.
Namun, dia tak mau menyebut data pastinya.
”Usia SD sudah ada yang main. Yang paling banyak usia siswa SMP-SMA,” kata dia kepada Jawa Pos kemarin.
Dokter Divisi Psikiatri Adiksi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) itu menjelaskan, penanganannya pun beragam.
Ada yang dibantu lewat pemberian psikoterapi serta obat.
Tapi tidak sedikit juga yang akhirnya dirawat.
Soetjipto menyatakan, judol pada anak-anak dan remaja sama seperti adiksi.
Pencetusnya, bagian prefrontal cortex atau otak bagian depan yang memiliki fungsi pertimbangan, berpikir kritis, dan mengambil keputusan belum berkembang sempurna.
Padahal, bagian inilah yang menjadi ’’rem’’ atas keinginan-keinginan seseorang.
Ketika terpapar adiksi, prefrontal cortex berpotensi mengalami gangguan.
Sebab, otak terpapar kesenangan instan ketika menang.
Saat kalah, pemain yang telanjur kecanduan judol mengalami kesalahan bernalar.
’’Bukan berhenti. Mereka malah main dengan alasan untuk mengembalikan kekalahanku. Ini yang membuat mereka main lagi, dan seterusnya,’’ imbuhnya.
Soetjipto menambahkan, faktor genetik berpengaruh anak-anak bermain judol.
Anak yang memiliki orang tua penjudi akan berpotensi melakukan hal tersebut juga.
Sementara Psikolog klinis Universitas Surabaya (Ubaya) Dr Nadia Sutanto SPsi MPSi Psi menambahkan, judol pada anak tak kalah kompleksnya dengan pada dewasa.
’’Bisa jadi, (judol) ini muncul sebagai iklan yang menarik. Lalu diklik. Ada juga yang mungkin tahu dari teman. Si teman share dia menang, dia tertarik ikut,’’ ujarnya.
Nadia menyatakan, adiksi pada judol juga muncul karena salah mengartikan peluang.
Pemain judol yang pernah sekali saja merasakan menang, akan merasa beruntung.
’’Dia akan nyoba terus. Akhirnya adiksi, anak mengambil atau mencuri demi dapat uang,’’ kata Nadia. (fam/ai/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana