SURABAYA - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Surabaya mengalami peningkatan sejak awal Desember 2024 hingga pertengahan Januari 2025.
Berdasarkan data yang dihimpun dari empat rumah sakit, total terdapat 275 kasus.
Rinciannya, Rumah Sakit Haji Surabaya terdapat mencatat 175 kasus, RS Universitas Airlangga (RSUA) 71 kasus, RS Husada Utama (RSHU) 14 kasus, dan RS Universitas Surabaya (RS Ubaya) 15 kasus.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam RSHU dr Luki Agustina SpPD, peningkatan kasus DBD ini sering terjadi pada masa pancaroba, ketika terjadi peralihan musim panas ke musim hujan.
’’Perubahan kelembapan udara dan cuaca ekstrem menyebabkan populasi nyamuk meningkat. Resiko penularan DBD pun bertambah,’’ jelas dia kemarin (16/1).
Kelompok yang paling rentan terkena DBD adalah balita, lanjut usia, dan individu dengan penyakit komorbid, seperti diabetes atau autoimun.
’’Balita memiliki sistem imun yang belum matang, sedangkan lanjut usia mengalami penurunan fungsi organ, sehingga daya tahan tubuh mereka lebih lemah,’’ tambahnya.
Sementara Wakil Direktur Medis RS Ubaya dr Deltania Herwendanasari, menambahkan bahwa anak-anak usia sekolah menjadi kelompok yang paling sering dirawat karena DBD.
’’Mobilitas anak-anak yang tinggi, seperti bermain di luar rumah atau bersekolah, membuat mereka lebih rentan digigit nyamuk aedes aegypti,’’ ujarnya.
Gejala awal DBD yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi mendadak, badan terasa lemas, nyeri otot, dan mual.
’’Namun, tidak semua penderita mengalami demam tinggi. Pada individu dengan daya tahan tubuh lemah, gejalanya bisa berupa badan pegal, mual, lemas, hingga keringat dingin,’’ terangnya. (ana/ai/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana