Dewan Khawatir Langkah Pemkot Bisa Ganggu APBD
SURABAYA – Pemkot Surabaya dalam waktu dekat akan mengambil pinjaman sebesar Rp 5,6 triliun.
Dana fantastis itu berasal dari tiga lembaga.
Yakni PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), Bank Jatim, dan Bank Mandiri.
Pemkot memastikan pelunasan utang itu bisa lunas dalam waktu lima tahun.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meyakini pemkot tidak akan kesulitan membayar angsuran.
Itu karena bunga yang diberikan rendah.
”Kami memilih lembaga yang memberikan bunga rendah,” ucapnya.
Dana pinjaman itu digunakan untuk penanganan kemiskinan serta penuntasan proyek infrastruktur (selengkapnya baca grafis).
Menurut Eri, pemkot membutuhkan tambahan anggaran karena tahun ini ada sebagian APBD dialokasikan untuk mendukung program makan bergizi gratis (MBG).
Nominalnya Rp 1 triliun.
”Dana pinjaman di butuhkan untuk percepatan pembangunan di Surabaya,” ucapnya.
Mantan Kepala Bappeko Surabaya itu menambahkan, proyek infrastruktur di metropolis akan dikebut mulai tahun ini.
Selain mengembangkan wilayah, pembangunan juga bertujuan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Menanggapi langkah dari pemkot, Anggota Komisi D DPRD Surabaya Michael Leksodimulyo beharap pemkot bijak menggunakan dana pinjaman.
Apalagi kabarnya, proyek RSUD Surabaya Selatan memakai dana tersebut.
Dia meminta pemkot tidak memakai dana pinjaman untuk membangun RSUD Surabaya Selatan.
Karena proyek itu dinilai sangat penting.
Tujuannya untuk pemerataan fasilitas kesehatan di Surabaya.
Dia berharap pemkot menelaah betul skema utang untuk pengerjaan RSUD Surabaya Selatan.
”Punya ambisi itu boleh, tetapi harus realistis. Jangan sampai pembiayaan besar ini malah mengorbankan sektor lain yang lebih mendesak,” kata Politikus PSI itu.
Diperkirakan pembangunan RSUD Surabaya Selatan membutuhkan anggaran mencapai Rp 305 miliar itu.
Menurut Michael, dana itu akan lebih baik digunakan untuk menguatkan pelayanan puskesmas.
Belum lagi, kata dia, beban operasional dan bunga utang bisa mengganggu anggaran berikutnya.
”Pak Wali mungkin ingin memberikan layanan terbaik. Tentu harus didukung niat baik itu,” terangnya. (omy/gal/aph/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana