Tiga Proyek Jadi Prioritas Pemkot
SURABAYA - Pembiayaan pembangunan infrastruktur melalui mekanisme utang akan mulai terealisasi tahun ini.
Namun besaran hutang yang turun diperkirakan maksimal hanya Rp 900 miliar.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Surabaya menyebut dana itu akan diprioritaskan untuk tiga proyek.
Yakni pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB), Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT), dan Underpass Taman Pelangi.
Kepala Bappedalitbang Surabaya Irvan Wahyudrajad mengatakan, sejumlah proyek infrastruktur yang menjadi prioritas untuk dikerjakan tahun ini akan dibiayai utang.
Jumlah dana yang cair berkisar Rp 400-900 miliar.
Pencairan anggaran dilakukan secara bertahap, yakni disesuaikan dengan pendapatan asli daerah (PAD).
Pembiayaan itu diprioritaskan untuk infrastruktur jalan.
Karena konektivitas wilayah menjadi salah satu prioritas karena Surabaya menjadi megapolitan hub barang dan jasa.
Pembangunan JLLB, JLLT dan underpass Taman Pelangi bisa menekan kemacetan lalu-lintas bisa terjadi.
”Secara bertahap JLLB di lanjutkan. JLLT juga akan begitu. Dalam hal ini kami meminta dukungan dari pemerintah pusat agar proyek ini bisa segera terealisasi,” kata Irvan di DPRD Kota Surabaya, kemarin (24/2).
Irvan menyebut dengan jumlah pembiayaan itu, pembangunan tidak akan selesai di tahun 2025.
Karena hanya ada waktu sisa 3-4 bulan saja ketika pinjaman turun.
Praktis pengerjaan mulai berjalan pada triwulan dua atau pertengahan tahun.
Penyelesaian akan molor hingga tahun depan.
”Melihat kondisi yang terjadi, kami menargetkan JLLB bisa rampung pada 2026. Tahun depan pembiayaan dengan jumlah lebih besar akan turun,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Surabaya Eri Irawan mengatakan pembiayaan infrastruktur melalui pinjaman tidak akan menjadi masalah selama pemanfaatannya jelas.
Pemkot Surabaya sudah mengalokasikan untuk infrastruktur.
Dia yakin dampaknya ke PAD Surabaya juga akan besar.
”Akan ada investasi hingga Rp 30 triliun lagi ke Gresik untuk proyek smelter. Kalau infrastruktur perbatasan penghubung Gresik-Sidoarjo siap, maka yang diuntungkan juga Surabaya. Karena pusat logistik masih ada di sini,” katanya.
Dia menekankan jangan sampai Surabaya kehilangan momentum.
Ketika dampak ekonomi mulai terasa akan jauh lebih besar daripada pengajuan pinjaman yang dilakukan, maka kebijakan ini harus didukung.
”Ada timbal balik positif yang dirasakan Surabaya dari kegiatan ini,” tutup dia. (ian/gal/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana