RADAR MALANG - Petualang dan pelari asal Indonesia, Diego Yanuar, kembali bikin takjub.
Bukan cuma karena ia baru saja menyelesaikan salah satu lomba lari paling ekstrem di dunia bernama Marathon des Sables (MDS) Legendary.
Lomba lari sejauh 250 km di tengah Gurun Sahara itu digelar mulai 6 April dan berakhir pada 12 April 2025 di Maroko.
Diego berhasil menyelesaikannya dalam waktu total sekitar 40 jam 44 menit, melewati enam etape selama tujuh hari.
Baca Juga: Antusiasme Besar! Film Qodrat 2 Melampaui Jumlah Penonton Qodrat 1
Apa yang bikin prestasi ini luar biasa?
Selain medannya yang gila, seperti pasir panas, duri, suhu ekstrem yang bisa mencapai 55 derajat Celcius siang hari dan turun ke 0 derajat saat malam, Diego memilih untuk berlari tanpa sepatu lari profesional.
Ia tetap setia dengan alas kaki pilihannya: sandal.
Dalam ajang legendaris yang sudah digelar sejak 1986 ini, setiap pelari diwajibkan membawa perlengkapannya sendiri.
Baca Juga: Dari Mekkah ke Bioskop: Doa Sutradara Jumbo untuk 3 Juta Penonton Terkabul!
Mulai makanan, sleeping bag, kompas, sampai kompor kecil.
Bantuan dari panitia hanya tenda dan 5 liter air per hari.
Uniknya lagi, ini adalah pertama kalinya Diego ke Afrika.
Bahkan ke gurun pun belum pernah.
Diego memang bukan sosok asing di dunia petualangan.
Tahun 2018–2019, ia dan sang istri, Marlies Fennema, pernah bersepeda dari Belanda ke Indonesia melintasi 23 negara.
Perjalanan gila itu bahkan dijadikan film dokumenter berjudul The Bike’s Journal.
Kini, lewat Marathon des Sables, Diego kembali membuktikan satu hal.
Yakni, batas itu cuma ada di kepala.
Dan kadang, sandal pun cukup untuk menaklukkan Sahara. (rsy)
Editor : Aditya Novrian