Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dikritik AS, BI Justru Kian Melebarkan Transaksi QRIS ke Jepang dan China

A. Nugroho • Minggu, 27 April 2025 | 20:10 WIB
Ilustrasi transaksi menggunakan QRIS (pch.freepik)
Ilustrasi transaksi menggunakan QRIS (pch.freepik)

SISTEM pembayaran digital QRIS (Quick Response Indonesian Standard) buatan Bank Indonesia kembali menarik perhatian dunia.

Kali ini, Amerika Serikat melalui laporan tahunan National Trade Estimate (NTE) 2025 secara resmi melontarkan kritik, menuding QRIS sebagai kebijakan protektif yang dianggap membatasi persaingan usaha asing.

Kritik ini menjadi ujian penting bagi sistem pembayaran nasional yang telah menjadi andalan 56,3 juta pengguna di dalam negeri.

Bukannya mundur, Bank Indonesia justru semakin agresif memperluas jaringan QRIS ke tingkat global.

Menyusul keberhasilannya di Singapura, Malaysia, dan Thailand, QRIS kini bersiap memperluas jangkauan ke Jepang dan China.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, dengan optimisme menyatakan bahwa implementasi di kedua negara tersebut akan terealisasi tahun ini.

Jepang dan China, sebagai mitra dagang utama Indonesia, menjadi langkah strategis yang membuktikan bahwa QRIS memiliki daya saing di kancah internasional.

Tidak bisa dipungkiri, pencapaian QRIS hingga kuartal pertama 2025 sangatlah mengesankan.

Dengan total 2,6 miliar transaksi senilai Rp262,1 triliun, sistem ini telah menjangkau 38,1 juta merchant yang mayoritas adalah UMKM.

Bahkan, selama Ramadan tahun ini, pertumbuhan transaksi per pengguna mencatat kenaikan luar biasa hingga 111% dibanding tahun sebelumnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa meskipun QRIS menggunakan standar global EMV, sistem ini telah disesuaikan dengan kebutuhan lokal untuk mendorong inklusi keuangan dan memperkuat kedaulatan digital.

Penyertaan elemen budaya nasional, seperti dukungan bahasa Indonesia dalam sistem ini, menjadi ciri khas yang membuat QRIS semakin relevan di tingkat domestik sekaligus unik di panggung global.

Namun, tantangan tetap ada.

Amerika Serikat memandang kebijakan pembatasan kepemilikan asing dalam infrastruktur pembayaran Indonesia sebagai penghalang investasi.

 Meski begitu, Bank Indonesia tetap teguh mempertahankan karakteristik nasional QRIS, sekaligus berkomitmen memperluas Regional Payment Connectivity (RPC) ke lebih banyak negara.

Kritik tajam dari AS justru menjadi momentum untuk membuktikan bahwa sistem lokal mampu bersaing.

Dengan fondasi yang kuat dan inovasi berkelanjutan, QRIS telah menjelma menjadi simbol kedaulatan digital Indonesia.

Kehadiran QRIS di Jepang dan China diharapkan menjadi babak baru yang mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam ekosistem pembayaran digital global. (sai)

Editor : A. Nugroho
#Korea Selatan #BI #amerika serikat #Singapura #kritik #Thailand #bank indonesia #qris #AS #China #Malaysia #Transaksi QRIS #Jepang