RADAR MALANG - Dalam hamparan sabana yang luas dan hutan tropis yang lebat, gajah berjalan dengan langkah yang berat.
Bukan sekadar hewan darat terbesar di dunia, mereka adalah makhluk dengan emosi yang kompleks, memiliki kemampuan berduka, berbahagia, bahkan saling menjaga satu sama lain seperti manusia dalam suatu komunitasnya.
Saat seekor gajah betina melahirkan, kawanan gajah akan menyambut anggota baru dengan penuh suka cita.
Mereka mengelilingi bayi gajah, melindunginya dari ancaman, dan membantu induknya merawat bayi gajah.
Keterikatan sosial ini bukan hanya soal kebersamaan, tetapi juga tentang empati yang mendalam.
Ketika salah satu dari mereka sakit, yang lain menunjukkan kekhawatiran, bahkan berusaha merawatnya dengan penuh perhatian.
Dan ketika ada yang meninggal, kawanan mereka tidak begitu saja melanjutkan hidup.
Mereka berhenti, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menatapnya, seakan mengisyaratkan arti kehilangan.
Tidak hanya sampai di situ, gajah juga menunjukkan perilaku yang menyerupai manusia dalam menghadapi kematian.
Penelitian yang dilakukan pada gajah Asia di India mengungkapkan bahwa mereka tidak hanya berduka, tetapi juga berusaha menguburkan anak mereka yang telah tiada.
Mereka menutupi tubuhnya dengan tanah dan tumbuhan sebelum pergi, seolah ingin memberikan penghormatan terakhir.
Fenomena ini membuktikan bahwa kesedihan dan kehilangan bukan hanya dimiliki oleh manusia saja, gajah juga merasakannya dengan cara mereka.
Kecerdasan emosional mereka tidak terlepas dari otak besar yang mereka miliki.
Ingatan jangka panjang yang luar biasa memungkinkan mereka mengenali kawanannya, mengingat sumber air yang mereka kunjungi bertahun-tahun lalu, bahkan mengenali manusia yang pernah berinteraksi dengan mereka.
Kemampuan berkomunikasi mereka juga tak kalah menarik, dari suara, bau, hingga sentuhan, gajah menggunakan berbagai cara untuk berinteraksi dengan sesamanya. (sai)
Editor : A. Nugroho