RADAR MALANG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau 2025 di Indonesia akan berlangsung dengan durasi lebih singkat dari biasanya, terutama di sebagian besar wilayah.
Berdasarkan analisis hingga pertengahan April 2025, sekitar 298 Zona Musim (ZOM) atau 42 persen wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih pendek.
Wilayah tersebut mencakup sebagian besar Sumatera, Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku Utara, dan sebagian kecil Papua.
Musim kemarau diperkirakan dimulai pada April hingga Juni 2025 di 403 ZOM (57,7%) dengan wilayah Nusa Tenggara menjadi kawasan yang paling awal memasuki musim kering.
Sementara itu, secara umum, musim kemarau tahun ini diprediksi mulai pada waktu yang sama hingga lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
Durasi musim kemarau sangat bervariasi antar wilayah diantaranya yakni:
Sumatera, diprediksi berlangsung antara 3–12 dasarian (10–120 hari), Jawa 10–21 dasarian, Kalimantan 3–15 dasarian, Sulawesi 3–24 dasarian, Bali–NTB–NTT 13–24 dasarian, Maluku 3–9 dasarian, dan Papua 3–21 dasarian.
Untuk puncak musim kemarau sendiri diperkirakan terjadi pada Agustus 2025 di sebagian besar wilayah, yang umumnya berlangsung lebih awal atau sesuai dengan pola biasanya.
Setelah itu, masa pancaroba atau peralihan diprediksi terjadi pada September hingga November, lalu musim hujan akan dimulai pada Desember 2025 hingga Februari 2026.
Dari sisi sifatnya, sekitar 60 persen wilayah akan mengalami musim kemarau normal, 26 persen lebih basah dari biasanya, dan 14 persen wilayah lainnya lebih kering.
Prediksi ini dinilai sangat penting, utamanya untuk sektor pertanian, perikanan, dan pengelolaan sumber daya air di seluruh Indonesia. (ney)
Editor : Aditya Novrian