RADAR MALANG - Sejumlah video Pacu Jalur yang menampilkan bocah berdiri di ujung perahu (dikenal sebagai “joki” atau “penari pucuk jalur”) kembali mencuri perhatian masyarakat global. Potongan aksi tersebut viral di TikTok dan Instagram, memunculkan tren baru bertema Aura Farming yang mendunia.
Awalnya populer sejak September 2024, istilah "Aura Farming" menggambarkan momen ketika seseorang memancarkan karisma dan kepercayaan diri bak tokoh utama (main character energy).
Kini fenomena itu melekat pada bocah pacu jalur yang memutar tangan, bersikap tenang penuh percaya diri, dan bergerak seirama dengan perahu melaju di Sungai Batang Kuantan.
Tari Bocah Rebut Dunia Maya
Video viral menayangkan bocah sekitar 7 tahun, mengenakan pakaian adat Melayu, berdiri tegap sambil menari di ujung perahu cepat menjadi simbol semangat dan pemersatu dalam tim pendayung.
Netizen dari berbagai negara tak luput membuat parodi: berdiri di atas mobil, kursi dermaga, bahkan panggung, menirukan gaya ikon “Anak Coki” tersebut.
Sorotan Klub Sepak Bola Dunia
Fenomena ini sampai menarik minat klub-klub elite seperti Paris Saint‑Germain (PSG) dan AC Milan. Maskot PSG bahkan mengunggah ulang video viral itu dengan caption “pure joy” dan tim AC Milan memparodinya di platform media sosial internasional.
Nilai Budaya dan Sosial Pacu Jalur
Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan dayung, melainkan warisan budaya sejak abad ke-17. Perahu panjang disebut jalur selama berabad-abad digunakan sebagai sarana transportasi di Sungai Batang Kuantan sebelum berkembang menjadi ajang meriah saat perayaan, seperti kemerdekaan dan hari besar lokal.
Dalam kompetisi, tim biasanya terdiri dari 50–60 pendayung dan diiringi oleh sejumlah peran penting: tukang concang (komando), tukang pinggang (mudi), tukang onjai (anti-oleng), serta tukang tari di ujung perahu—seperti bocah viral itu—yang berfungsi menyemangati dan menjaga keseimbangan perahu.
Dampak dan Respons Pemerintah
Pemprov Riau dan Dinas Pariwisata Kuansing menyambut baik gelombang viral ini. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Haji Roni Rakhmat, fenomena ini membuktikan bahwa budaya lokal Indonesia mampu menembus batas digital, sekaligus meningkatkan potensi pariwisata dan kebanggaan lokal. (*)
Editor : Aditya Novrian