JAKARTA 2025 – Sebanyak 10 warga Austria antusias mengikuti program Indonesian Interfaith Scholarship (IIS). Hal itu terlihat saat mereka berkunjung ke Desa Pabuaran, Bogor, tanggal 13 November 2025. Mereka dengan bergembira berinteraksi dengan masyarakat yang menyambutnya.
Selama delapan hari mulai Rabu (12/11), mereka akan mengunjungi Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali. "Delegasi Austria yang berpartisipasi dalam IIS terdiri dari jurnalis, pimpinan komunitas Islam, Katolik dan Budha, serta Lembaga Swadaya Masyarakat," kata Alexander Reiger, Ketua Taskforce Dialog Lintas Budaya pada Kementerian Luar Negeri Austria.
Menurut dia, para peserta dijadwalkan berkunjung ke Masjid Istiqlal, Katedral Jakarta, Desa Pabuaran di Bogor, Candi Borobudur, Klenteng Sam Poo Kong, pesantren, seminari, dan komunitas lintas agama lainnya.
Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Heru H. Subolo berharap para peserta dapat menyaksikan langsung bagaimana beragam komunitas agama hidup berdampingan dalam harmoni.
Menurut Heru, IIS merupakan program Kementerian Agama yang didukung Kementerian Luar Negeri. “Dalam program ini, peserta dari negara sahabat diajak melihat langsung praktik toleransi beragama di tengah masyarakat,” jelasnya pada pembukaan IIS 2025 di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Dijelaskannya, IIS pertama kali dilaksanakan pada tahun 2012, namun sempat terhenti pada masa pandemi Covid tahun 2019. Program IIS diaktifkan kembali pada tahun 2025 dengan 10 orang peserta dari Austria. Sejak pertama kali dilaksanakan program IIS telah memiliki 72 orang alumni dari berbagai negara.
“Contoh hidup penuh toleransi dan harmoni, yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari adalah salah satu aset soft power Indonesia paling berharga,” tambah Heru.
Oleh karena itu, sejak tahun 2004 Kementerian Luar Negeri mendorong kerja sama dialog antar agama dengan negara mitra. “Kini jumlahnya mencapai 37 negara mitra, termasuk Austria, salah satu mitra paling konsisten,” kata dia.
Sementara itu, dalam sambutan pembukaan IIS, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menegaskan pentingnya menjadikan perbedaan sebagai kekuatan. “Perbedaan tidak seharusnya memisahkan kita, tetapi justru menyatukan kita,” ujarnya saat membuka IIS 2025.
Dijelaskan bahwa Indonesia tumbuh dari fondasi keberagaman yang kokoh. “Indonesia dianugerahi keragaman luar biasa, dengan ratusan etnis, bahasa, dan agama yang hidup berdampingan,” kata Kamaruddin.
Menurut Kamaruddin, harmoni itu terjaga karena adanya landasan bersama. “Filosofi Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika membimbing kita menjaga harmoni,” tambahnya.
Ia juga menekankan peran nilai keagamaan dalam kehidupan lintas iman. “Dalam Islam, kami menjunjung prinsip rahmatan lil-alamin, bahwa iman harus membawa rahmat bagi seluruh ciptaan,” tutur Kamaruddin.
Pelaksanaan IIS 2025 memiliki arti khusus. Program tahun ini merupakan tindak lanjut dari Dialog Lintas Agama dan Budaya Indonesia–Austria di Bandung tahun lalu, yang antara lain menyepakati program residensi di Indonesia.
Kerja sama ini, lanjutnya, mencerminkan tekad kedua negara memperluas ruang dialog dan persahabatan antaragama.(*/lid)
Editor : Kholid Amrullah