RADAR MALANG – Tepat pada 23 Januari masyarakat Gorontalo kembali memperingati Hari Patriotik. Hari peringatan ini bukan hanya sekadar tanggal di Kalender, namun bukti bahwa keberanian dan kemandirian bangsa Indonesia pernah bergelora di “Serambi Madinah” jauh sebelum deklarasi kemerdekaan nasional diucapkan.
Peringatan Hari Patriotik yang ke-84 Tahun ini menjadi momen penting untuk membuka kembali catatan heroik masa lalu dan menari benang merahnya ke kehidupan generasi muda di era digital.
Jejak Sejarah dan Nilai Perjuangan Hari Patriotik Gorontalo
Pada 23 Januari 1942 peristiwa ini bermula dengan penentangan rakyat Gorontalo terhadap kolonialisme Belanda di bawah pimpinan Nani Wartabone dan Kusno Danupoyo. Dengan arahan mereka, rakyat Gorontalo berhasil melucuti senjata tentara Belana dan membebaskan tawanan politik dengan strategi dan solidaritas rakyat.
Puncaknya, di Tanah Gorontalo bendera Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Lebih dari tiga tahun sebelum 17 Agustus 1945, sebuah wilayah di seluruh Nusantara mengumumkan kemerdekaannya, pada akhirnya peristiwa ini disebut sebagai “Proklamasi Gorontalo”.
Sejarah ini mengajarkan nilai-nilai fundamental yang melampaui peperangan fisik bukan sekedar perjuangan mengangkat senjata, namun inisiatif dan keberanian dari Nani Wartabone dan Kusno Danupoyo dapat menjadi nilai patriot yang memerangi ketidakadilan penajajah terhadap rakyat. Selain itu nilai kemandirian yang mengajarkan kita untuk berdiri di atas kaki sendiri menjadi fondasi utama gerakan ini.
23 Januari merupakan Hari Patriotik yang menjadi sebuah pengingat bahwa Gorontalo memiliki nilai sejarah perjuangan dan kemenangan. Dengan memahami sejarahnya kita sebagai generasi muda tidak hanya harus bangga pada masa lalunya, tetapi juga harus termotivasi untuk menciptakan nilai kemerdekaan baru dalam bidang ekonomi, teknologi, dan kreativitas untuk membantu kemajuan negara.
Penulis: Satya Eka Pangestu
Editor : Aditya Novrian