RADAR MALANG – Masyarakat Jawa menyambut bulan suci ramadan dengan berbagai cara unik. Salah satunya adalah tradisi Megengan, yang masih ada di beberapa daerah hingga hari ini, termasuk Malang.
Tradisi “Megeng” yang artinya menahan diri, merupakan simbol kesiapan umat Muslim dalam menunaikan bulan puasa pada pertengahan Februari mendatang. Megengan dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus mempererat tali silaturahmi antar warga melalui pembagian makanan.
Ciri khas utama dari tradisi ini adalah kehadiran kue apem. Merupakan adaptasi dari kata Arab afwan atau afuwwun yang jika dilihat secara filosofis, melambangkan permohonan maaf kepada Sang Pencipta atas khilaf selama setahun terakhir.
Di beberapa tempat, tradisi megengan juga disertai dengan acara tahlil dan pembagian berkat atau ambeng, isinya berupa naik dan lauk pauk (ayam, telur, tempe, tahu, urap dan sambal. Makanan ini dikemas dalam kotak berkat dan dibagikan kepada orang-orang.
Masyarakat terus mengikuti tradisi megengan seiring berjalannya waktu meskipun ada beberapa penyesuaian. Rangkaian Megengan biasanya diawali dengan prosesi “nyekar” atau ziarah kubur makam keluarga. Setelah itu acara puncak dilakukan di masjid oleh tokoh agama setempat.
Megengan adalah contoh nyata dari kebudayaan Islam-Jawa yang memiliki nilai-nilai sosial dan agama. Masyarakat mempersiapkan diri untuk menjalani Ramadan dengan ketakwaan.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang meningkatkan takwa kepada Allah SWT dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Penulis: Xeon Rhao Loudra Widadi
Editor : Aditya Novrian