Memasuki Ramadan, relawan Yoeni Achyar menyiapkan program buka puasa gratis bagi warga terdampak banjir di Atu Payung, Aceh Tengah. Meski akses masih sulit dan pasokan listrik belum normal, penyaluran bantuan tetap diupayakan. Anak yatim dan lansia menjadi prioritas penerima manfaat selama bulan suci.
PERJALANAN panjang itu dimulai dari Kota Malang. Selama kurang lebih tiga hari menempuh jalur darat, Yoeni Achyar akhirnya tiba di Serambi Mekkah tepat pada Minggu (30/1) lalu. Namun, setibanya di Aceh, perempuan 57 tahun itu mendapati satu kenyataan, sebagian wilayah belum benar-benar pulih dari bencana banjir.
Di sejumlah titik, kayu-kayu bekas terjangan banjir masih berserakan di halaman rumah warga. Saat malam turun, gelap gulita masih menjadi pemandangan biasa. Perbaikan jaringan listrik memang terus berjalan, tetapi belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah Provinsi Aceh.
Yoeni datang bukan sekadar melihat. Bersama relawan lain, dia membawa misi kemanusiaan. Pada Rabu (18/2), mereka sebenarnya berencana bergerak menuju Atu Payung, Aceh Tengah. Namun, hujan deras yang mengguyur sehari sebelumnya memaksa rencana itu ditunda.
”Akses ke Atu Payung masih susah kalau menggunakan kendaraan biasa. Ada 80 titik rawan longsor menuju ke sana, kalau hujan deras rawan melintas,” ujarnya saat ditemui di Takengon.
Wilayah Takengon dipilih sebagai titik singgah karena stok bahan makanan relatif tersedia. Dari sana, relawan menyiapkan dapur untuk memasak makanan yang nantinya dibagikan kepada warga terdampak selama Ramadan.
Bagi warga Atu Payung, bantuan itu sangat berarti. Pascabanjir, kawasan tersebut nyaris terisolasi. Untuk mencapai Takengon saja, warga harus menempuh perjalanan hingga tiga jam dengan ongkos transportasi yang masih mahal. Akibatnya, banyak keluarga hanya bertahan dari sisa bahan makanan yang ada atau sepenuhnya bergantung pada bantuan relawan.
Baca Juga: UB Bebaskan UKT 190 Mahasiswa Korban Banjir Aceh dan Sumatera
”Di Atu Payung kerusakan bangunan minim, tetapi aksesnya belum normal. Awal pascabanjir akses ke sana hanya bisa menggunakan helikopter,” terang Yoeni.
Persoalan tidak berhenti pada akses. Listrik dan jaringan internet di wilayah itu juga belum pulih. Memang sempat ada bantuan genset atau diesel, tetapi operasionalnya bergantung pada solar yang harganya melambung.
Saat ini, harga solar di Aceh Tengah mencapai Rp 20 ribu per liter atau sekitar dua kali lipat dari harga normal. Biaya yang tinggi membuat warga tidak bisa menyalakan genset setiap saat. Ketika malam tiba, Atu Payung benar-benar tenggelam dalam gelap.
”Meskipun keadaannya memprihatinkan, semangat masyarakat masih tinggi untuk bertahan hidup. Harapannya dengan takjil dan buka bersama gratis sedikit mengobati mereka,” tutur Yoeni.
Program berbuka gratis itu akan diprioritaskan bagi anak yatim dan lansia. Menariknya, Yoeni tidak hanya memasak sendiri. Dia juga berencana membeli makanan siap saji dari warga setempat agar perputaran ekonomi kecil tetap hidup.
Untuk menjalankan program tersebut, komunitas Asli Malang telah mengumpulkan dana sekitar Rp 10 juta. Ini bukan kali pertama mereka bergerak.
”Ini merupakan penggalangan dana yang kedua kali dari komunitas kami. Sebelumnya sudah ada penggalangan dana tetapi menjadi satu di Gimbal Alas, mereka berangkat sejak Desember,” jelasnya.
Sebelum fokus ke Atu Payung, Yoeni lebih dulu membantu penanganan bencana di beberapa titik bersama relawan komunitas Gimbal Alas. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat mereka menuju wilayah Bidari, Aceh Timur.
Medan yang berat membuat perjalanan darat hampir mustahil. Dari Aceh Tengah menuju Bidari, relawan harus menggunakan perahu kecil menyusuri jalur air. Saat itu, kebutuhan paling mendesak adalah air bersih.
Relawan pun mengangkut toren berukuran besar dengan perahu kecil melintasi sungai. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan tenaga sekaligus keberanian.
”Karena jarak satu wilayah dengan lainnya yang jauh ini mungkin membuat penanganan bencana tidak bisa cepat. Berbeda dengan Jawa yang hampir semua wilayah terhubung dengan jalan raya,” pungkas Yoeni.
Di tengah keterbatasan akses, mahalnya logistik, dan gelapnya malam tanpa listrik, Yoeni memilih tetap bertahan. Baginya, selama masih ada warga yang menunggu uluran tangan, perjalanan panjang dari Malang ke pelosok Aceh itu selalu layak diperjuangkan. (*/adn)
Disunting Kembali: Diva Ayu Herdianasari
Editor : Aditya Novrian