DERU mesin perahu kayu menembus keheningan pagi di Kabupaten Aceh Timur kemarin (21/2). Perahu beranjak menuju hulu sungai Tamiang yang terkenal dengan aliran deras dan bergelombang. Nehemia Mahardika Brilliant dan keempat relawan lain harus mengejar waktu agar sampai di lokasi tepat waktu.
Jalur air menjadi satu-satunya akses menuju Desa Rantau Panjang. Maklum, jalur darat melalui perkebunan sawit luluh lantak diterjang banjir beberapa waktu lalu. ”Butuh dua setengah jam perjalanan menggunakan perahu ke Rantau Panjang,” ungkap Dika.
Dika dan teman-temannya asal Singosari, Kabupaten Malang berada di lokasi sejak awal Januari lalu untuk membantu warga korban bencana. Rantau Panjang dipilih karena salah satu desa korban bencana yang minim penyaluran bantuan.
Selama di lokasi, dia sudah empat kali menyalurkan logistik. Juga memperbaiki infrastruktur serta fasilitas yang dibutuhkan warga. Di antaranya memulihkan listrik yang mengalir ke musala dan masjid. Kala itu aliran listrik lumpuh. Jaringan seluler juga terganggu. Agar bisa berkomunikasi, mereka membeli voucher WiFi atau memakai Starlink.
Untuk memperbaiki jaringan seluler dan listrik, dia patungan dengan temannya untuk membeli panel solar cell. Panel dibeli dari Jakarta, kemudian dikirim ke Aceh. Setelah tiba pada 2 Februari lalu, dia bersama temannya merakit solar cell tersebut. ”Kami menghabiskan waktu lima hari untuk merakit,” kata dia.
Tuntas mengatasi listrik dan jaringan seluler, Dika memasang 17 titik lampu penerangan di penjuru desa. Juga menanggulangi krisis air bersih. ”Saat pertama kali ke sana, air pompa dari Rantau Panjang keruh,” terang relawan yang bergabung Ikatan Pencinta Keindahan Alam (IPKA) sejak 2014 lalu itu.
Memasuki Ramadan, Dika merasakan berpuasa dengan tantangan tersendiri. Sering menempuh perjalanan jauh dari satu ke desa lain sambil menahan haus dan lapar. Suatu hari, dia berangkat dari Rantau Panjang pukul 09.00, kemudian tiba di kota pukul 01.00 dini hari. Praktis dia dan relawan lain terpaksa berbuka puasa di perjalanan. Mereka hanya membawa bekal seadanya berupa air putih dan makanan ringan seperti sepotong roti. Jika ada kesempatan, mampir di warung yang melintas.
Di sana juga tidak ada istilah ngabuburit lazimnya daerah lain di Indonesia. Itu karena aktivitas di dapur posko semakin padat menjelang berbuka. Dika bersama relawan lainnya sibuk memasak untuk warga.
Menu berbuka yang dinikmati relawan maupun yang dihidangkan kepada warga juga seadanya. Terkadang olahan ikan rebus, sayur, dan mie instan. Meski sederhana, mereka menikmati olahan tersebut untuk mengisi tenaga setelah aktivitas padat. Di tengah keterbatasan air dan tempat, warga tetap melaksanakan salat tarawih.(*/dan)
Baca Juga: Akademisi Tak Setuju Penutupan Ruas Jalan Merdeka Selatan
Disunting ulang oleh Marsha Nathaniela
Editor : Aditya Novrian