Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jalani Tugas di Perbatasan, Prajurit Kostrad Obati Rindu dengan Hidangan Khas Malang

Aditya Novrian • Sabtu, 28 Februari 2026 | 20:25 WIB

 

MENGABDI: Personel Yonarhanud 2 Kostrad membagikan bubur kacang hijau di Desa Eban, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.
MENGABDI: Personel Yonarhanud 2 Kostrad membagikan bubur kacang hijau di Desa Eban, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Letda Arh Nur Putra Metandre bersama personel Yonarhanud 2 Kostrad harus menjalani Ramadan di perbatasan RI-RDTL jauh dari keluarga demi tugas pengamanan negara. Mereka mengisi waktu dengan mengajar di sekolah-sekolah setempat. Untuk urusan makanan, Putra sengaja memasak hidangan yang kerap disantap di Malang.

NABILA AMELIA

UDARA Desa Eban, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, sore itu terasa lebih kering dibandingkan semilir angin. Bagi Letda Arh Nur Putra Metandre, perbedaan itu bukan sekadar soal suhu udara, melainkan tentang rasa. Apalagi dia terbiasa dengan suasana di Jalan Untung Suropati Selatan, Kota Malang

Tahun ini, rutinitas Ramadan perwira muda tersebut berubah total. Tak ada lagi suasana hangat asrama Yonarhanud 2 atau keriuhan berburu takjil di Bumi Arema.

Sebagai Perwira Analis Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonarhanud 2, Putra kini berdiri di garda terdepan penjaga kedaulatan. Sejak September 2025 lalu, dia bersama 349 personel lainnya meninggalkan hawa sejuk Malang demi penugasan negara. Tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP) membawanya ke wilayah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste.

Sebuah penugasan panjang selama satu tahun yang memaksa mereka melewatkan momen syahdu Ramadan dan Lebaran jauh dari pelukan keluarga. Putra ditempatkan di Markas Komando (Mako). Namun, rekan-rekannya tersebar di 16 pos yang menjadi titik nadi keamanan negara.

Baca Juga: Tips Merayakan Lebaran di Perantauan: Tetap Berkesan Meski Jauh dari Keluarga

Nama-nama desa seperti Netemnanu, Aplal, Manusasi, Nilulat, Haumeniana, hingga Wini kini menjadi peta keseharian mereka. Di titik-titik itulah, para prajurit ini membuktikan bahwa pengabdian tak melulu soal kokangan senjata.

”Untuk para personel sendiri tersebar. Ada yang di markas komando atau 16 pos lainnya yang berbatasan langsung dengan negara tetangga," cerita Putra saat mengawali obrolan mengenai sebaran pasukannya di tapal batas.

Selama Ramadan di tanah Timor, ritme kerja Putra dan kolega mengalami penyesuaian. Jika biasanya kegiatan dimulai pukul tujuh pagi, kini mereka mulai bergerak pukul delapan.

Seluruh aktivitas rutin diupayakan tuntas pada pukul tiga sore agar para prajurit memiliki waktu untuk persiapan batin menjelang berbuka. Namun, jangan bayangkan mereka hanya berdiam diri di dalam pos. Sebaliknya, kehadiran mereka justru menjadi oase bagi warga setempat melalui kegiatan sosial dan pendidikan.

Salah satu momen yang paling membekas di hati Putra adalah saat dia melepaskan atribut militer kakunya untuk menjadi seorang pengajar. Dua kali seminggu, pemuda berusia 24 tahun itu melangkah ke ruang-ruang kelas SD dan SMP setempat.

Di sana, dia mendapati kenyataan pahit bahwa belum semua siswa mampu membaca dengan lancar. Dengan penuh kesabaran, lulusan Akademi Militer tahun 2024 ini mengeja huruf demi huruf bersama anak-anak perbatasan.

”Untuk mengajar di sekolah, biasanya kami lakukan dua kali dalam seminggu. Kami bantu mengajar baca, matematika, sampai Bahasa Inggris," terang lelaki yang kini akrab dengan wajah-wajah polos bocah Timor tersebut.

Bukan hanya soal literasi konvensional, mereka juga menghadirkan Smart Car. Ini bukan truk militer biasa yang mengangkut amunisi, melainkan perpustakaan berjalan yang disulap dari truk operasional Yonarhanud 2.

Di dalamnya berjajar buku-buku bacaan dan televisi bantuan Markas Besar TNI. Putra kerap merasa terharu saat melihat binar mata anak-anak itu ketika truk perpustakaan datang, mengingat tidak semua sekolah di sana memiliki fasilitas literasi yang layak.

”Jadi kami ajari mereka membaca sambil menonton tayangan dari televisi di truk kami," tutur Putra. Baginya, melihat antusiasme siswa adalah obat lelah yang paling mujarab. Di sana, mereka sadar bahwa menjaga keamanan negara juga berarti mencerdaskan anak bangsa.

Kehadiran Satgas Yonarhanud 2 juga mempererat tali persaudaraan meski dalam balutan perbedaan. Mayoritas masyarakat di Kabupaten TTU memeluk agama Kristen, namun toleransi di sana tumbuh subur.

Para prajurit rutin membagikan bubur kacang hijau dan susu bergizi untuk warga, melakukan patroli keamanan, hingga pelayanan kesehatan gratis. Sementara itu, kehidupan spiritual internal prajurit tetap terjaga melalui tadarus Alquran dan salat berjamaah di pos masing-masing.

”Namun, karena puasa sekarang kegiatan rutinnya dimulai pukul 08.00. Kalau di waktu normal dimulai jam 07.00," jelas Putra.

Tentu, secanggih apa pun penugasan, rindu adalah musuh yang tak bisa dilawan dengan senapan. Putra tak menampik bahwa ada kalanya dia sangat mendambakan suasana Ramadan di Malang bersama orang tua dan adiknya.

Teknologi menjadi jembatan pelepas penat melalui panggilan video di sela waktu luang. Beruntung, suasana kekeluargaan di perbatasan sedikit banyak mampu mengobati rasa sepi tersebut, terutama saat momen berbuka puasa tiba.

”Makanannya kami masak seperti yang biasa di Malang. Ada ayam goreng, sayur, dan makanan ringan sebagai takjil," jelas Putra. Bagi Putra, Ramadan di Timor Tengah Utara adalah tentang memperluas arti keluarga hingga ke ujung negeri. (*/adn)

Disunting Kembali: Diva Ayu Herdianasari

Editor : Aditya Novrian
#ramadhan #makanan khas malang #Perbatasan #Penugasan