RADAR MALANG - Pada Minggu (1/3/2026) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 menetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Keputusan tersebut diambil berdasarkan metode hisap yang selam ini konsisten digunakan oleh Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan Kamariyah.
Pengumuman yang lebih dini memberi orang lebih banyak waktu untuk merencanakan mudik, mengatur jadwal libur, dan menyiapkan berbagai kegiatan keagamaan.
Informasi ini dinilai penting bagi mereka yang mengikuti keputusan resmi Muhammadiyah tentang penetapan Idul Fitri di Indonesia pada tahun 2026. Sehingga masyarakat dapat mempersiapkan persiapan mudik jauh lebih awal.
Lantas, apa yang dimaksud metode hisab sebenarnya yang digunakan oleh Muhammadiyah selama ini?
Penjelasan Metode Hisab Muhammadiyah
Kami kutip langsung dari website resmi Muhammadiyah, bahwa metode hisab yang digunakan selama ini adalah perhitungan astronomis yang menentukan awal bulan Kamariyah (termasuk Ramadan dan Syawal) pada saat hilal sudah berada di atas ufuk, berapa pun tingginya, ketika matahari terbenam.
Sehingga ketika salah satu negara atau wilayah di bumi ini melihat hilal secara langsung, maka diputuskan bahwa seluruh dunia akan mengalami pergantian awal bulan.
Metode hisab ini tentunya memprioritaskan kepastian ilmiah dan astronomis daripada pengamatan visual saja. Selain itu, terdapat tiga kriteria wujudul hilal yang dimaksud melalui metode hisab ini yaitu:
- Telah terjadi konjungsi atau ijtimak, yaitu saat bulan dan matahari berada di satu garis edar yang sama.
- Konjungsi atau ijtimak tersebut terjadi sebelum senja terjadi.
- Ketika senja datang, bulan masih berada di atas ufuk atau dengan kata lain hilal sudah terwujud.
Hingga hari ini, Muhammadiyah mulai beralih ke Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berbasis pada perhitungan astronomis global dengan kriteria yang lebih ketat.
Tentunya metode hisab yang menggunakan ilmu astronomi murni, sangat berbeda dengan metode rukyat yang bergantung pada pengamatan langsung. Keunggulannya adalah kita dapat memastikan waktu ibadah jauh hari sebelumnya dan tidak tergantung pada cuaca saat pengamatan.
Dengan penetapan ini, orang Islam, terutama anggota Muhammadiyah, dapat segera membuat persiapan untuk menyambut Hari Kemenangan yang akan datang pada bulan Maret.
Penulis: Satya Eka Pangestu
Editor : Aditya Novrian