JAKARTA – Profesor Quraish Shihab menekankan bahwa perdamaian tidak boleh mengorbankan keadilan dalam pesan kenegaraannya.
Hal ini disampaikannya pada acara Nuzulul Quran Tingkat Kenegaraan 1447 H/2026 di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).
Di hadapan para pejabat negara yang hadir, ia mengutip pesan Al-Qur'an agar kebencian terhadap suatu kaum tidak membuat seseorang berlaku tidak adil.
Keadilan didefinisikan sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada pemiliknya dengan cara terbaik dan tercepat.
Selanjutnya, Prof Quraish mendefinisikan keadilan dengan mengisahkan pidato pelantikan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kisah khalifah pertama itu mengubah persepsi tentang kekuatan dan keadilan secara fundamental.
Dalam pidato tersebut orang kuat menjadi lemah di hadapan pemimpin jika ia mengambil hak orang lain, hingga hak tersebut dicabut darinya.
Sebaliknya, orang lemah menjadi kuat di hadapan pemimpin sampai hak-haknya yang dirampas berhasil dikembalikan.
Baca Juga: Pemerintah Batasi Akses Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Mengutip doa dari gurunya, Syekh Mutawalli Sya'rawi, Prof Quraish Shihab menyampaikan doa yang menyentuh hati para hadirin. Ia menyatakan bahwa semua kekuasaan bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa.
"Jika Presiden ditakdirkan Tuhan untuk mensejahterakan rakyat, maka rakyat berdoa agar dapat membantu beliau," ujar Prof Quraish menukil doa sang guru.
Doa ini mencerminkan hubungan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin.
Baca Juga: Magang ke Jepang 2026 Dibuka, Lulusan SMA/SMK Berpeluang Dapat Rp 11,6 Juta Per Bulan
Lebih lanjut ia menyampaikan, jika jabatan tersebut adalah takdir bagi Presiden untuk menegakkan keadilan dan perdamaian, maka ia berdoa agar Presiden dibantu oleh Tuhan dan juga oleh rakyat.
Pesan ini menjadi pengingat agung di malam penuh berkah Nuzulul Quran.
Penulis: Satya Eka Pangestu - Mahasiswa Universitas Negeri Malang
Editor : Aditya Novrian