Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dakwah di Pagak Pakai Tiga Kitab Berbahasa Madura

Bayu Mulya Putra • Minggu, 30 Maret 2025 | 16:46 WIB
LANJUTKAN DAKWAH: KH Ahmad Fauzan Sholeh, cucu kelima dari KH Abdullah Arlidin berpose di depan foto KH Abdullah Arlidin di kediamannya di Kecamatan Pagak, Jum’at lalu (28/3).
LANJUTKAN DAKWAH: KH Ahmad Fauzan Sholeh, cucu kelima dari KH Abdullah Arlidin berpose di depan foto KH Abdullah Arlidin di kediamannya di Kecamatan Pagak, Jum’at lalu (28/3).

MUBALIGH dari tanah Madura punya peran besar dalam penyebaran Islam di Malang.

Salah satu jejaknya ada di Jalan Bendo Agung Nomor 40, Desa Gampingan, Kecamatan Pagak.

Di sana, terdapat Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Ushulus Salam.

Abdullah Arlidin.

Beliau adalah cicit atau keturunan seorang wali bernama Sunan Cendana dari Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura.

Kedatangannya ke Kecamatan Pagak berlangsung sekitar tahun 1930-an.

Sebelum memutuskan untuk berdakwah, KH Abdullah Arlidin sempat mondok.

Lokasi ponpesnya di Desa Karang Anyar, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan.

Selama mondok, KH Abdullah Arlidin berada di bawah asuhan Syekh Ismail Tambak Agung.

Selepas mondok, barulah KH Abdullah Arlidin memutuskan untuk mengembara bersama beberapa santrinya menggunakan kapal.

Keputusan untuk mengembara itu atas arahan Syekh Ismail Tambak Agung.

Mereka tiba di Kecamatan Pagak sekitar tahun 1937.

Tepatnya di kali besar yang kini jadi area pesantren.

Setelah tiba di sana, KH Abdullah Arlidin mencoba mendekati masyarakat setempat.

“Beliau mengenalkan agama Islam berupa ajakan untuk beribadah, mengaji, serta menjaga etika dan adab,” cerita KH Ahmad Fauzan Sholeh, Pengasuh Ponpes Salafiyah Ushulus Salam.

Usahanya tak berjalan lancar pada awal-awal.

Saat hendak melakukan ibadah, ada santrisantri KH Abdullah Arlidin yang dihalangi warga.

Mereka tidak boleh mengambil air di dekat tempat mereka menetap.

Untuk mengambil air, KH Abdullah Arlidin dan para santrinya harus menempuh jarak 200 meter.

Kendati mendapat penolakan dari masyarakat, KH Abdullah Arlidin tetap melakukan syiar.

Pada 1938, beliau memutuskan untuk mendirikan tempat pendidikan agama.

Bentuknya belum berupa pondok.

Melainkan langgar yang terbuat dari anyaman bambu.

Pondok tersebut akhirnya bisa diresmikan pada 1939.

Saat awal-awal pengembangan pondok pesantren, KH Abdullah Arlidin masih mendidik santri laki-laki.

Dia menggunakan tiga kitab.

Yakni kitab Arkan, kitab Aqidatul Awam, serta kitab Tsullam Sufina.

Ketiga kitab tersebut menggunakan Bahasa Madura.

“Kitab-kitab tersebut membahas masalah ketuhanan atau tauhid hingga ubudiyah atau kesadaran hamba dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT,” tambah Ahmad Fauzan.

Ketiga kitab itu masih digunakan sampai sekarang untuk pembelajaran para santri.

Penyebaran Islam pun terus dilakukan secara telaten oleh KH Abdullah Arlidin hingga wafat pada 1955.

Dari sana, perlahan-lahan masyarakat mulai terbuka.

Banyak yang akhirnya mulai menghormati dakwah yang dilakukan KH Abdullah Arlidin.

Terutama setelah ada beberapa orang yang jatuh sakit.

“Kebanyakan yang sakit itu sebelumnya menolak ajaran KH Abdullah Arlidin.

Mereka akhirnya minta dibimbing untuk berobat dan berdoa agar bisa sembuh dari sakit,” imbuh lelaki yang juga cucu kelima KH Abdullah Arlidin tersebut.

Seiring berjalannya waktu, jumlah pengikut maupun santri KH Abdullah Arlidin semakin bertambah.

Ada yang dari Malang Selatan, Pasuruan, hingga Madura.

Selain jumlah santri, ajaran yang diberikan ponpes juga semakin dikembangkan.

Pada 2013, keturunan-keturunan KH Abdullah Arlidin ikut melakukan pengembangan ajaran menggunakan kitab diniyah Islam.

Di kitab tersebut, terdapat beberapa ajaran agama Islam seperti fikih, akidah, akhlak, tasawuf, hukum Islam, hingga tafsir.

Para pengurus ponpes juga menambah bangunan.

Dari yang sebelumnya hanya satu, sekarang menjadi empat bangunan.

Setiap bangunan berjarak 100 meter.

“Pengajaran agamanya pun juga tidak hanya dilakukan untuk santri lakilaki, namun juga perempuan,” tandas lelaki yang juga Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Pagak tersebut. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#bahasa #pondok pesantren #Mubaligh #Ponpes #pesantren #Penyebaran Islam #madura #malang #kitab