Untuk diketahui, pada ajang Galatama musim 1992/1993 itu, kontestan yang bermain diantaranya adalah Arseto Solo, Pelita Jaya, Niac Mitra, PKT Bontang, Perkesa sampai dengan Warna Agung. Menurut asisten pelatih tim Singo Edan, Kuncoro, ada beberapa hal yang membuat tim ketika itu mampu keluar sebagai peringkat pertama. Salah satunya disebabkan oleh tingginya rasa kekeluargaan di tim.
"Salah satu modal Arema ketika itu adalah kerja keras, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan," papar pria asal Gondanglegi itu. Dengan modal tersebut, disebutnya tim selalu tampil all out di setiap pertandingan. Para pemain selalu tampil habis-habisan ketika bermain di lapangan. Alhasil, banyak pertandingan yang berhasil dimenangi oleh Tim Singo Edan.
Salah satu kenangan yang masih teringat dalam pikirannya ketika tim mampu mengalahkan Pelita Jaya. Dimana Kuncoro dan kawan-kawan sukses menang tipis 1-0. "Saat itu Pelita skuadnya berisikan sejumlah pemain Timnas. Tapi karena kami kerja keras dan main ngotot, akhirnya bisa menang," tambah dia. Ketika itu, ia mengakui bila fisik pemain cukup terkuras karena harus melewati jalur darat untuk menjangkau venue pertandingan.
Torehan-torehan positif saat itu membuat Arema mengakhiri kompetisi dengan 45 poin. Angka yang terpaut cukup jauh dari pesaing terdekat mereka yaitu PKT Bontang. Dimana klub tersebut mengumpulkan 41 poin. Lalu di peringkat ketiga ada Barito Putera, disusul Asyabaab Salim Group Surabaya, dan peringkat ke lima adalah Gelora Dewata Bali.
Lebih lanjut, disebut eks pemain PSM Makasar itu, ketika mampu menjadi juara sambutan dari Aremania sangatlah luar biasa. Dimana baik pemain, official, staf pelatih, dan manajemen turut melakukan perayaan bersama. "Kami diarak keliling kota usai menjadi juara," kenangnya. (gp/by/rmc) Editor : Shuvia Rahma