Karena ingin memperdalam ilmu bela diri dan mengasah kemampuan, bungsu dari sembilan bersaudara itu memutuskan untuk mengikuti pelatihan resmi di salah satu perguruan pencak silat pada 1980. ”Waktu itu saya masih berusia 13 tahun. Terus berlatih dan akhirnya mulai ikut pertandingan sejak 1985. Tapi prestasi saya tidak terlalu cemerlang, bahkan tidak mulus,” ujarnya.
Tercatat Edy hanya tiga kali mengukir prestasi sebagai atlet pencak silat. Dua kali tingkat provinsi, dan satu kali tingkat nasional. Seluruhnya dia dapatkan gelar di Surabaya. Dari tiga podium itu, Edy mengantongi dua medali emas dan satu perunggu. Sadar jalannya menjadi atlet tak terlalu moncer, alumnus Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang itu memiliki ”dendam” khusus. Bukan dalam makna negatif, dendam itu justru membentuk tekadnya untuk menjadi seorang pelatih pencak silat profesional.
Adik kandung mendiang Jubir Covid-19 Republik Indonesia Achmad Yurianto ini lalu dipercaya menjadi pelatih pencak silat tingkat kota sejak 1984 atau setelah tamat di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun pada saat itu dia belum memiliki lisensi pelatihan apa pun. ”Untuk pertama kali saya memberanikan diri mengambil pendidikan pelatih tingkat daerah di Surabaya tahun 1991,” katanya. Setelahnya, Edy makin getol melatih bibit-bibit atlet dari perguruan silatnya sendiri. Hingga akhirnya, dia dipercaya untuk membawa tim pencak silat mahasiswa Jawa Timur untuk sirkuit se-Pulau Jawa. ”Selanjutnya saya ambil lisensi pelatihan lagi pada 1999 untuk tingkat nasional muda,” ungkap dia.
Karena tangan dinginnya dalam membina atlet, Edy selalu dipercaya menjadi pelatih untuk Tim Provinsi Jawa Timur dalam kejuaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak tahun 2000. ”Terakhir di PON Papua 2021, atlet Jawa Timur mendapat 1 emas, 2 perak, dan 1 perunggu,” sebutnya. Dari kiprahnya menjadi pelatih tingkat kota hingga provinsi, transfer ilmu yang diberikan juga merambah ke tingkat nasional. Pertama kali dia menangani tim pencak silat dalam kejuaraan dunia di Malaysia pada 2007. Edy berhasil mengantarkan atlet didikannya menyabet 2 medali emas, 2 medali perak, dan 4 medali perunggu.
”Akhirnya saya mendapatkan kepercayaan untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Saya bisa berkeliling dunia juga. Mulai dari Belgia, Korea Selatan, hingga ke Vietnam,” tutur dia. Edy menyimpan sejumlah pengalaman mengesankan selama mendampingi atlet di kejuaraan-kejuaraan internasional. Misalnya pada 3rd Asian Pencak Silat Championship dan Asian Games. Banyak orang yang menyepelekan tim pencak silat Indonesia waktu itu. Tapi akhirnya bisa mengumpulkan medali emas dalam jumlah banyak.
Di kejuaraan 3 Asian Pencak Silat Championship, atlet binaan Edy bisa menyabet 4 emas, 3 perak dan 1 perunggu. Yang paling banyak pada kejuaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, timnya mampu menggondol 14 emas dan 1 perunggu. ”Itu rekor tertinggi saya sebagai pelatih dengan mengumpulkan medali dari 16 nomor pencak silat. Rekor sebelumnya adalah 10 medali emas saat Tes Event Asian Games,” kenangnya.
Salah satu atlet Asian Games 2018 yang dilatih oleh Edy adalah Hanifan Yudani. Wajah Hanifan sempat viral ketika dia berlari membawa bendera merah putih, kemudian memeluk Presiden Jokowi dan Prabowo Sunianto di tribun kehormatan. Momen haru tersebut terus dikenang Edy hingga saat ini.
Dalam setiap kejuaraan, pria yang juga akrab disapa Mas Dhe itu tak pernah membebani atletnya untuk memborong medali. Baginya, tanggung jawab terbesar sebagai pelatih adalah terus mengingatkan dan mendorong atlet untuk disiplin. "Dari situ saya percaya bahwa kemenangan dan segala bonus bisa diraih. Cara mengingatkan tiap atlet juga berbeda. Kita harus mempelajari satu per satu watak dan karakter mereka,” beber Ayah dua orang anak ini.
Saat membawa tim pencak silat ke luar negeri, Edy tak hanya melulu mengawal jalannya pertandingan. Dia kerap memanfaatkan momen-momen tersebut untuk mengenalkan pencak silat bersama Perguruan Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI). Hal itu dilakukan dengan tujuan pencak silat bisa lebih dikenal dan bisa masuk Olimpiade. ”Terakhir di Jepang pada 2017. Rombongan PB IPSI mengenalkan pencak silat ke salah satu perguruan tinggi di sana,” ujarnya. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno