Lawan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno, 12 tahun lalu, menjadi momen yang paling berkesan bagi Muhammad Ridhuan. Dia menyebut kalau laga itu sangat gila. Sebab stadion dipenuhi dengan 82 ribu penonton. Aremania dan Aremanita dari berbagai wilayah turut datang untuk merayakan kampiun Indonesia Super League (ISL) musim 2009/2010.
”Tidak hanya menjadi momen yang tidak terlupakan, tapi luar biasa dalam karier saya,” kata pemain asal Singapura itu kepada Jawa Pos Radar Malang, beberapa hari lalu.
Terlebih, pada pertandingan terakhir di musim itu, Arema menutupnya dengan sangat manis. Mereka menang telak dengan skor 5-1 atas tuan rumah Persija Jakarta. Menurut Ridhuan, apa yang terjadi di musim itu tak datang dengan instan. Sebab semua elemen tim turut bekerja keras sepanjang kompetisi. Padunya pemain lokal dan asing membuat performa tim menjadi positif.
”Kami mempunyai permainan solid dan berkarakter. Pemain-pemain seperti Piere Njanka, Roman Chmelo, dan Noh Alam Shah menjadi tulang punggung kuat untuk tim,” kata dia.
Saat itu, nama-nama yang disebutkan Ridhuan tersebut kerap tampil menjadi pembeda ketika tim berada dalam kondisi genting. Contohnya pada laga penentuan juara, yang mempertemukan PSPS Pekanbaru melawan Arema. Pada pertandingan yang berlangsung 26 Mei 2010 itu, Noh Alam Shah mencetak gol krusial, yang membantu tim mengakhiri laga dengan skor imbang. Tambahan satu poin membuat Singo Edan mengunci gelar juara. Di musim itu, Arema memenangkan 23 laga, mencatatkan 4 kali hasil imbang, dan 7 kali kalah. Berkat catatan tersebut, mereka sukses mengumpulkan 73 poin.
Berkaca dari momen tersebut, Ridhuan menyebut ada tiga hal yang perlu dimiliki sebuah tim untuk menjadi juara. Pertama yakni bermain dengan hati. Kedua adalah karakter. Ketiga, tim harus mempunyai suasana yang positif. Poin terakhir itu menurutnya penting, sebab bisa membantu para pemain untuk berbuat semaksimal mungkin.
”Itu membuat kami kompak, baik di latihan atau pertandingan. Karena itu, meski tidak mempunyai pemain lokal dengan nama besar, tim kami masih bisa bersaing,” kata dia.
Eks pemain Timnas Singapura itu menyebut bila kondisi tim dulu dan sekarang tidak bisa dibandingkan. Sebab kondisi saat ini tentu berbeda. Namun, untuk Arema FC menjadi juara Liga 1, dia menyebut bila itu bukanlah misi yang mustahil.
”Asalkan mereka (pemain) bermain dengan hati dan karakter,” tutur Ridhuan.
Senada dengan Ridhuan, eks bomber Singo Edan Franco Hita juga berharap pemain Arema FC saat ini punya tekad kuat. ”Mereka harus mempunyai kenyamanan, komitmen, dan rasa memiliki Arema di hati mereka,” kata pria asal Argentina itu saat ditanya tiga hal yang harus dimiliki Arema FC untuk menjadi juara.
Hita menjelaskan kalau kenyamanan dibutuhkan pemain sepak bola, agar mereka tetap enjoy di lapangan. Serta tidak berpikir hal-hal lain di luar sepak bola. Misalnya telat gaji, atau fasilitas kurang. Sementara itu, komitmen juga dibutuhkan setiap pemain agar lebih all-out dalam bertanding. Sedangkan rasa memiliki dibutuhkan agar setiap pemain punya kebanggaan berkostum Arema. Berangkat dari itu, dia menyebut bila seluruh elemen di tim Singo Edan perlu menyatukan visi dan misi. Sebab, itu bisa menjadi sebuah pedoman awal sebelum menggapai mimpi bersama.
”Dulu, kami semua sejalan, bekerja keras untuk dapat bisa dapat trofi dua kali beruntun. Mulai dari pengurus, pemain, dan semua orang yang bekerja untuk Arema,” kenangnya.
Hita menyebut bila hal itulah yang menjadi kunci Singo Edan mampu menjadi juara Copa Dji Sam Soe, tahun 2005 dan 2006. Terpisah, eks pemain Arema era 1999-2000, Juan Manuel Rodriguez Rubio, menyebut bila kesempatan Singo Edan untuk juara di musim ini tetap ada. Meski dalam beberapa awal laga, perjalanan tim belum benar-benar mulus.
”Tiga hal yang perlu dimiliki Arema FC untuk juara, yang pertama harus bermain sabar, menjaga konsentrasi, dan punya mental pemenang,” kata dia.
Poin-poin itu menurutnya penting dimiliki pemain. Sebab dia melihat bila Arema FC kerap bermain terlalu cepat. Akibatnya, tidak ada struktur yang bagus saat membangun serangan. Selain itu, dia juga menyebut bila konsentrasi pemain sangat penting. Di musim lalu, dia menyebut bila faktor itu menjadi salah satu titik lemah tim. Sedangkan mental pemenang menurutnya perlu dimiliki tiap pemain agar motivasi mereka berlipat ganda.
Dalam perjalanannya selama berkostum Arema, pria asal Chile itu mengaku kalau dulu para pemain selalu memberikan 1.000 persen kemampuan di lapangan. ”Semuanya selalu bermain dengan hati. Saya bilang passion kepada tim harus lebih dari uang,” kata pemain yang berposisi sebagai center back itu.
Alex Pulalo: Kalau Jadi Bagian dari Arema Harus Total Pesan berikutnya datang dari eks Kapten Arema FC Alexander Pulalo. Dia menyebut bila peluang Arema FC untuk melanjutkan capaian di Piala Presiden 2022 ke Liga 1 tetap ada. ”Pemain harus benar-benar konsentrasi di Liga 1, dan merasa belum mendapatkan apa-apa,” kata dia. Itu perlu dilakukan lantaran persaingan di Liga 1 musim ini cukup ketat. Alex Pulalo melihat bila musim ini banyak kesebelasan yang punya hasrat besar untuk menjadi juara. Alhasil, siapa kesebelasan yang kesiapannya bagus dan lebih matang, mereka lah yang berpeluang besar merebut trofi juara BRI Liga 1.
Poin lain yang menurutnya penting dimiliki pemain Arema FC adalah tanggung jawab. Mereka tidak boleh asal-asalan saat berkostum Arema FC. ”Kalau sudah menjadi bagian Arema itu harus total,” tuturnya.
Dia mengisahkan bila dulu pemain kerap malu terhadap Aremania kalau main setengah setengah ketika berlaga. Sebab, tak sedikit di antara pendukung Singo Edan yang langsung menyampaikan kritik kepada pemain. Di sisi lain, Alex Pulalo juga mengakui bila salam satu jiwa begitu sakral di tim Arema. Itu menjadi gambaran kalau warga Malang benar-benar memberikan hatinya untuk tim Singo Edan.
”Kami di tim juga mengamalkan salam satu jiwa untuk membuat semuanya benar-benar matimatian di lapangan demi Arema,” kata dia.
Alex Pulalo mengabdikan dirinya bersama Singo Edan sejak musim 2005 sampai 2009. Selama kurun waktu itu, dia selalu menjadi andalan di posisi full back kiri. Selama membela Singo Edan, dia turut mengantarkan dua trofi Copa Dji Sam Soe ke Bumi Arema.
Pesan selanjutnya datang dari mantan pemain Arema asal Chile, Rodrigo Araya. ”Saya pikir mempunyai pemain bagus saja tidak cukup (untuk menjadi juara). Tim harus benar-benar kompak, dan suasana tim juga harus kondusif,” kata pemain Arema era 1998 sampai 2003 itu. Bila antar pemain mempunyai chemistry yang bagus dan saling mendukung, dia menyebut bila prestasi terbaik bisa didapatkan. Menurut Araya, modal itulah yang menjadi salah satu kunci sukses Arema mampu menembus babak 8 besar di musim 1999/ 2000.
Saat itu, dia menyebut bila skuad Singo Edan tidak mempunyai materi pemain yang mentereng. Juga tidak ditunjang fasilitas latihan yang terbaik. Namun berkat kekompakan antar pemain, mereka bisa berbuat maksimal. Selain itu, Araya juga menyebut bila saat itu peran suporter juga sangat kalah besar. Dia mengatakan bila antusiasme Aremania selalu besar di setiap laga kandang. Khususnya saat tim sedang menjalani laga big match.
”Rasanya selalu ingin segera bermain saat pemanasan melihat stadion sudah penuh. Lalu saat tampil juga bisa mengeluarkan tenaga ekstra,” terang dia.
Senada dengan Araya, eks gelandang dan kapten Arema I Putu Gede juga menyebut bila rasa kekeluargaan di tim Singo Edan tak boleh hilang. Dia mengakui bila itu menjadi salah satu kekuatan Arema hingga saat ini. ”Saya pikir itu membuat tim semakin solid, dan mentalitas menjadi lebih kuat. Karena memang semua elemen tim ada ikatan satu jiwa,” kata eks pelatih PSS Sleman tersebut.
Aspek kekeluargaan itu lah yang menurut Putu Gede jadi modal Singo Edan memenangkan dua trofi Copa Dji Sam Soe tahun 2005 dan 2006. Saat itu, dia menyebut bila pelatih Benny Dollo mampu menjaga kondisi internal tim. ”Beliau (Benny Dollo) seperti orang tua bagi para pemain. Humoris dan dekat. Itulah modal kuat kami bisa juara,” kata dia. (gp/by) Editor : Mardi Sampurno