Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Berenang 5,7 KM, Bersepeda 270 KM, Lari 63,2 KM, plus Melawan Problem Kaki

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 11 Desember 2023 | 23:00 WIB
PUSH YOUR LIMIT: Marlingga Alfedo menyelesaikan race Ironman Triathlon di Australia.
PUSH YOUR LIMIT: Marlingga Alfedo menyelesaikan race Ironman Triathlon di Australia.

Dalam rentang waktu sepekan, Marlingga Alfedo mampu menaklukkan dua event triathlon bergengsi dunia.

Yaitu Ironman Triathlon di Busselton, Australia dan Himalayan Xtreme Triathlon di Nepal.

Kini, dia menjadi orang Indonesia ketiga bisa finis Himalayan Xtreme Triathlon.

UMUMNYA, atlet butuh waktu istirahat tiga minggu setelah menyelesaikan satu event triathlon kategori jarak jauh.

Tapi itu tidak berlaku bagi Marlingga.

Dua event triathlon jarak jauh dia selesaikan dalam waktu tujuh hari.

Yakni Himalayan Xtreme Triathlon pada 25 November 2023 di Nepal.

Kemudian Ironman Triathlon di Busselton Australia pada 3 Desember lalu.

Keduanya jelas bukan event ringan karena merupakan triathlon kategori long distance.

Dalam dua kejuaraan itu, total Marlingga berenang sejauh 5,7 kilometer, bersepeda dengan jarak 270 kilometer, dan berlari 63,2 kilometer.

Rinciannya, saat menyelesaikan triathlon di Nepal, dia bersepeda 90 kilometer, berenang 1,9 kilometer, dan berlari 21 kilometer.

Sedangkan saat menuntaskan triathlon di Australia, arek yang berdomisili di Singosari itu harus bersepeda 180 kilometer, berlari 42,2 kilometer, dan berenang 3.8 kilometer.

Begitu pulang ke Indonesia, dia juga tidak mau diam.

Ketika diwawancarai wartawan koran ini Kamis lalu (7/12), Marlingga baru saja menyelesaikan latihan recovery dengan bersepeda menempuh jarak 50 kilometer.

Ada dua alasan yang membuat Marlingga memilih tidak bersantai-santai setibanya di Indonesia.

Pertama, dia merasa masih dalam kondisi jetlag dan susah tidur.

Kedua, masih akan ada banyak event triathlon yang akan dia ikuti ke depan.

”Prestasi di cabang olahraga ini tidak bisa didapatkan dalam kurun waktu satu malam. Jadi harus terus menempa diri,” kata atlet yang kerap disapa Edo itu.

Prinsip tersebut juga yang membuatnya sukses finish pada event Xtreme Triathlon pertamanya di Nepal.

Pada event tersebut, salah satu tantangan beratnya adalah bertanding di tempat yang kondisinya jauh berbeda dibandingkan saat latihan.

Jauh membutuhkan effort lebih karena yang menjadi rintangan tidak hanya fisik.

Tapi juga iklim dan cuaca.

”Saat berenang itu suhu udaranya sampai di bawah 18 derajat celsius. Lalu ketika bersepeda harus melalui jalan dengan elevasi 2,300 meter,” kata Alumnus Universitas Negeri Malang tersebut.

Artinya, suhu air jauh di bawah tempat latihannya di Jakarta.

Begitu juga medan untuk bersepeda.

Banyak sekali tanjakan yang harus dia libas.

Sementara saat berlari, medan yang dihadapi juga pegunungan.

Pihak panitia juga tidak memberikan jalur khusus pada perlombaan tersebut.

Para atlet harus menyelesaikan seluruh tahapan berdampingan dengan aktivitas orang-orang di wilayah perlombaan.

Beberapa kali Maringa harus menjaga diri dari kejaran anjing yang hendak menyerang.

Kadang terpaksa menunda perjalanan karena tiba-tiba rombongan hewan khas penggunaan Himalaya, yaitu Yak (sejenis sapi), tiba-tiba muncul.

”Jadi harus mempunyai banyak strategi selama race,” terangnya.

Di luar berbagai tantangan itu, Marlingga masih harus menghadapi kendala lain berupa problem di tubuh (khususnya kaki) bagian kiri.

Saat masalah itu kambuh, ototototnya seperti diperas dan terasa sakit.

Marlingga mengalami masalah itu saat menjalani tahapan berlari dan bersepeda.

”Kondisi itu terasa setelah empat kilometer berlari dan bersepeda sampai sebelum dua kilometer terakhir,” ucap pria yang didapuk menjadi brand ambassador sepatu olahraga 910 tersebut.

Agar keluhan itu tidak semakin serius, Marlingga terpaksa selalu berhenti sejenak setelah menempuh jarak 15 kilometer.

Namun, garis finish terus diupayakan meski harus menahan rasa sakit sepanjang race.

Dia percaya, tidak ada yang mustahil dengan terus berusaha.

Seluruh tahapan akhirnya dia selesaikan sembari menghadapi oksigen tipis pegunungan Himalaya.

”Saat itu saya hanya berpegangan pada prinsip, selesaikan apa yang telah dimulai,” terangnya.

Akhirnya Marlingga mampu finish dengan catatan waktu 11 jam, 11 menit.

Menempati posisi sembilan dari 15 peserta yang berasal dari berbagai negara.

Catatan itu membuat dirinya menjadi orang Indonesia ketiga yang berhasil finish dalam sejarah Himalayan Xtreme Triathlon.

Sedangkan saat ambil bagian pada ajang triathlon di Australia, dia tidak banyak menghadapi tantangan.

Marlingga hanya dituntut lebih kuat karena jarak tempuh yang lebih panjang dan recovery minim.

Dia finish pada urutan ke-50 dari 90 peserta yang tampil untuk kelompok usia 25 sampai 29 tahun.

Catatan waktunya 11 jam, 52 menit.

Berbeda dengan event di Nepal, triathlon di Australia diikuti sangat banyak peserta.

Yakni 3.300 orang dari seluruh penjuru dunia.

Mental baja tak hanya didapat Almunus SMPN 1 Lawang itu dari prinsip hidup dan latihan keras.

Ketangguhannya muncul juga berkat pengalaman hidup yang berliku.

Marlingga pernah hampir menyerah akibat mengalami cedera kaki sejak 2019 dan tidak kunjung sembuh.

Saat itu pihak keluarga juga sudah memintanya untuk mencari jalan hidup lain.

Mereka khawatir triathlon akan membahayakan masa tua Marlingga.

Dia juga sempat gagal masuk Timnas Triathlon pada 2021, saat tim merah putih bersiap untuk Asian Games 2022.

Marlingga mengaku tidak kunjung sembuh dari cedera lantaran terlalu memaksakan diri dan menganggap remeh.

Sebab, kala itu dia dalam posisi sukses naik beberapa podium juara ajang triathlon di Indonesia dengan skala internasional.

Contohnya Tri Factor Asian Championship Series di Belitung.

Setelah hasil kurang bagus di Timnas, dia memulai proses pemulihan secara maksimal.

Fokusnya memperbaiki kondisi selama setahun.

Marlingga hanya kembali ke race triathlon untuk melihat perkembangan pemulihan.

Selama proses pemulihan itu dia langsung didampingi fisioterapi.

Satu hal yang membuatnya tidak menyerah dalam fase tersebut adalah keinginan besar untuk mengumandangkan lagu Indonesia Raya eventevent internasional.

Baginya, berprestasi membawa lambang negara di dada adalah mimpi yang dikejar sejak menggeluti olahraga triathlon pada 2018.

Sebelumnya, Marlingga merupakan atlet renang. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Lari 63 Km #Berenang 5 Km #Bersepeda 270 Km