MALANG - Gelaran Pro Liga 2024 seri Malang yang berlangsung selama empat hari lalu menyisakan ironi. Itu menyusul, tidak ada atlet voli Kota Malang yang berlaga di turnamen level nasional tersebut. Situasi itu menjadi gambaran perkembangan cabor voli di Bumi Arema masih belum maksimal.
Ketua PBVSI Kota Malang Saiful Husen, tidak menampik situasi tersebut. Menurutnya prestasi dan perkembangan cabor voli di Kota Malang tengah kurang baik. Terlebih, di sektor nomor indoor. ”Prestasi di Porprov 2023 lalu juga kurang maksimal,” keluhnya.
Dia menjelaskan, ada dua faktor yang menjadi penyebab terciptanya situasi itu. Pertama, proses pembinaan klub-klub yang belum maksimal. Kedua, sulit atlet dan klub sulit mendapat fasilitas lapangan voli yang sesuai standar.
Menurutnya, minimnya fasilitas lapangan membuat klub-klub voli tak bisa berlatih dengan maksimal untuk melakukan pembinaan. Dia menjelaskan venue yang memenuhi standar hanya GOR Ken Arok. “Selama ini enam klub voli di Kota Malang masih bergantian pakai GOR Ken Arok untuk latihan,” ujar pria asal Malang itu.
Idealnya untuk melakukan pembinaan yang maksinmal setiap klub harus mempunyai tempat latihan khusus. Tujuannya untuk membuat atlet punya kesempatan menempa diri maksimal. Alhasil kemampuan mereka bisa semakin berkembang.
Saiful menjabarkan pada tahun 1990, Kota Malang sempat menjadi barometer voli di Jawa Timur. Prestasi yang diraih tim voli pada saat itu bagus.
Saat ini PBVSI Kota Malang dengan pemerintah terkait sedang berupaya untuk meningkatkan kualitas cabor bola voli. Langkah yang diambil dengan memperbanyak lapangan-lapangan voli di Kota Malang. ”Kami ingin voli Kota Malang berprestasi lagi, termasuk atletnya bisa berlaga di Pro Liga,” terangnya (rb1/gp).
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana