FESTIVAL Olahraga Masyarakat Kota (Forkot) Malang di cabang olahraga Kempo tidak berjalan dengan happy ending kemarin.
Itu menyusul kejuaraan itu hanya dihadiri sedikit peserta.
Dari 41 orang yang mendaftar, hanya 18 yang hadir pada hari pelaksanaan.
Ketua Beladiri Kempo Indonesia (KBI) Jawa Timur Supriadi saat ditemui wartawan koran ini mengatakan, 23 peserta lainnya mengundurkan diri dari kompetisi tersebut.
Menurutnya atlet-atlet yang tidak bisa bertanding karena terganjal izin orang tua.
”Penyebabnya besok (hari ini, red) banyak peserta masuk sekolah,” ujarnya.
Dalam ajang Forkot Malang di nomor Kempo, atlet yang ambil bagian memang masih duduk di bangku sekolah.
Ada dua kelompok usia yang dipertandingkan.
Di antaranya kelompok umur 8-10 tahun dan 11-13 tahun.
Pria yang akrab disapa Adi itu mengatakan, mereka sebenarnya sudah merencanakan hari pelaksanaan pada Sabtu lalu (13/7).
Tujuannya supaya tidak mengganggu waktu sekolah para peserta.
Tapi, mendekati hari pelaksanaan, venue yang digunakan untuk pertandingan bertabrakan dengan cabor karate tradisional.
Akibatnya jadwal kompetisi kempo terpaksa diundur sehari.
”Saya ajukan ganti venue ke pihak Kormi Kota Malang, tapi tidak diperbolehkan,” keluh Adi.
Dia juga sempat meminta memindahkan hari pelaksanaan pekan depan (22/7).
Namun, kembali ditolak oleh pihak Kormi.
Baca Juga: Polresta Kedatangan 13 Peserta KKP Sespimmen Polri ke-64
”Mau tidak mau kami akhirnya tetap jalan dengan peserta yang banyak berkurang,” jelasnya.
Adi menjabarkan kondisi itu berpotensi mempunyai dampak lebih luas.
Itu karena membuat proses penjaringan untuk Festival Olahraga Masyarakat Daerah (Forda) Jawa Timur tidak berjalan dengan baik.
Sehingga dia berencana menggelar agenda lain untuk melakukan proses seleksi.
Adi berharap ke depannya Kormi Kota Malang lebih memperhatikan cabor Kempo.
Sebab kepengurusan cabor sedang kekosongan pemimpin saat ini.
Itu karena Ketua Umum yang lama mengundurkan diri.
”Kami berharap Kota Malang bisa kembali jadi barometer kempo di Indonesia,” ucapnya. (rb1/gp)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana