E-SPORT Kota Malang menunjukkan perkembangan yang positif.
Satu indikasinya terlihat dalam kompetisi E-sport Festival Olahraga Masyarakat Kota (Forkot) Malang di Malang Creative Center kemarin.
Dalam ajang itu tercatat ada 380 peserta ambil bagian.
Jumlah peserta itu terbagi ke dalam lima jenis nomor pertandingan.
Di antaranya Mobile Legends 100 peserta, PUBGI 80 peserta, Free Fire 80 peserta, Taken 40 peserta, dan e-football 40 peserta.
Kepala Bidang Prestasi Indonesian Esports Association (IESPA) Malang Raya Katon Wahyu menjelaskan, antusiasme peserta yang tinggi menunjukan bahwa industri E-sport sudah mulai diterima di semua kalangan.
Baca Juga: Cari Bibit E-Sport, SMK Sriwedari Gelar Turnamen Mobile Legend
“Yang ikut lomba hari ini bukan hanya anak-anak sekolah saja, tetapi ada yang sudah berusia 35 tahun,” ungkapnya.
Pria 30 tahun itu menambahkan, jumlah peserta yang banyak juga menandai bahwa stigma negatif terhadap E-sport di masyarakat kian pudar.
"Dulu banyak orang tua melarang anaknya main games karena dianggap permainan tidak berguna,” ujar Wahyu.
Padahal menurutnya, E-sport merupakan salah satu olahraga pikiran.
Sama dengan catur dan bridge.
Berangkat dari itu, tujuan digelarnya lomba E-sport dalam ajang Forkot Kota Malang untuk menjadi wadah dan apresiasi bagi para gamers.
Menurutnya para peserta bisa mengasah skill dengan bertanding dengan peserta-peserta lain.
Dia berharap kedepannya ada agenda-agenda E-sport lain yang didukung Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Kota Malang.
Sehingga para gamers tidak hanya menunggu Forkot yang digelar dua tahun sekali.
Namun memiliki agenda-agenda lain yang dapat mendukung perkembangan skil dan mental kompetitif mereka.
Salah satu peserta lomba Kevin mengaku senang dengan adanya turnamen itu.
“Kedepan semoga ada lomba yang besar seperti ini lagi,” ucapnya. (rb1/gp)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana