PERSATUAN Tenis Lapangan Seluruh Indonesia (PELTI) Kabupaten Malang menghadapi sejumlah tantangan dalam menyiapkan atlet untuk Porprov Jawa Timur 2025 nanti.
Salah satu kendala yang mereka hadapi adalah kesulitan melakukan penjaringan atlet.
Pelatih PELTI Kabupaten Malang Bogey Muhaimin mengatakan, hanya terdapat 10 atlet saja yang masuk penjaringan mereka untuk persiapan pusat pelatihan cabang (Puslatcab) Porprov Jatim 2025.
Dari jumlah tersebut, mereka berencana melakukan seleksi menjadi enam atlet saja.
”Tapi karena jumlahnya minim seleksi yang tidak terlalu ketat,” katanya.
Menurutnya kondisi berpotensi menyebabkan kualitas atlet didapatkan kurang.
Dia menjabarkan idealnya harus ada sekitar 20 atlet.
Karena dengan semakin banyak petenis yang ikut latihan memperbanyak opsi.
Pria 34 tahun itu menjelaskan, ketertarikan masyarakat yang rendah terhadap olahraga tenis karena harga-harga perlengkapannya begitu mahal.
Akibatnya tidak semu mau terjun atau serius di olahraga tersebut.
Dia mencontohkan, harga satu raket tenis yang paling murah saja Rp 5 juta.
Sedangkan sebagai seorang atlet, harus mempunyai minimal tiga raket.
Sedangkan harga sepatu minimal Rp 1 juta.
”Belum lagi soal sewa lapangan dan beli bola,” imbuhnya.
Tidak hanya itu, Bogey juga mengeluhkan fasilitas lapangan tenis yang masih sedikit di Kabupaten Malang.
Menurutnya, hal itu juga menjadi faktor rendahnya minat masyarakat terhadap olahraga tenis.
Karena tenis belum memasyarakat.
Dengan keterbatasan yang mereka miliki, Pelti Kabupaten Malang sampai tidak berani mematok target di Porprov Jatim tahun depan.
”Kami juga belum mengetahui kekuatan daerah lain seperti apa,” ungkapnya.
Dia berharap pemerintah daerah lebih memperhatikan lagi ketersediaan fasilitas olahraga bagi masyarakat. (rb1/gp)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana