Ikut Puslatda, Berpisah dengan Orang Tua sejak SD
Sejak SD, Salsa sudah bergabung dalam pusat pelatihan daerah (Puslada) Persatuan Senam Indonesia (Persani) Jawa Timur. Bakatnya terus berbuah manis. Di ajang PON XXI Aceh-Sumut 2024, dia menjadi atlet senam dengan koleksi medali terbanyak.
GRATIO IGNATIUS SANI BERIBE.
TEPUK tangan dari ribuan penonton menutup aksi Salsabila Hadi Pamungkas di GOR Serbaguna Disporasu, Deli Serdang, 31 Agustus lalu.
Saat itu dia turun di nomor senam artistik meja lompat PON XXI 2024.
Sebelumnya, dia juga turun di nomor beregu dan lantai individu.
Baca Juga: Cabor Balap Sepeda Kota Malang Tambah Perolehan Emas Jatim di PON XXI 2024
Atlet yang berdomisili di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang itu berhasil memborong empat medali di ajang multi-event olahraga terbesar di Indonesia.
Salsa mengoleksi dua medali emas, satu perak, dan satu perunggu.
Sebelum PON, Salsa sudah mengoleksi berbagai prestasi di olahraga senam.
Dia mulai menggeluti olahraga itu saat menempuh pendidikan di SDI Riyadlul Mubtadiin, Turen.
Saat itu, guru olahraganya menawari kakak laki-laki Salsa, Iqbal Hadi, untuk bergabung dengan salah satu klub senam lantai di Kabupaten Malang.
Namun, Iqbal lebih tertarik dengan sepak bola.
”Akhirnya saya yang diajak,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara itu.
Awalnya, dia hanya diminta untuk menonton latihan saja.
Namun, karena kagum dengan penampilan para atlet yang mampu melakukan gerakan gerakan akrobatik, Salsa kecil akhirnya penasaran dengan olahraga tersebut.
Seminggu kemudian, dia mulai rutin berlatih senam.
Baca Juga: Atlet Downhill asal Malang Bawa Pulang Emas dan Perak di PON XXI
Di awal, Salsa cukup kesulitan mengikuti latihan.
Itu karena senam menuntut atletnya memiliki kelincahan dan kelenturan tubuh.
Namun, dia tidak menyerah.
Salsa memulai dengan gerakan-gerakan dasar.
Lalu berlanjut dengan level gerakan yang lebih sulit.
Dari situ, kemampuan Salsa meningkat dengan pesat.
Dua tahun setelahnya, dia mengikuti Kejurnas Senam di Trenggalek tahun 2014.
Medali perak di nomor regu berhasil diraih perempuan kelahiran 2005 itu.
Selanjutnya, dia menjadi kontingen Kabupaten Malang untuk Porprov Banyu wangi 2015.
Salsa yang masih duduk di bangku kelas empat SD berhasil menyumbangkan medali perak.
Pada tahun yang sama, dia juga berhasil mendapatkan medali perunggu di O2SN tingkat nasional.
Sederet prestasi gemilang yang didapatkan Salsa pada usia dini membuatnya dilirik pengurus provinsi (Peng prov) Persatuan Senam Indonesia (Persani) Jawa Timur.
Dia akhirnya dipanggil untuk bergabung dengan pusat pelatihan daerah (Puslada) di Gresik.
”Waktu itu lewat pelatih saya di Malang,” tuturnya.
Baca Juga: Lewat Gelaran PON XXI, BSI Komitmen Majukan Olahraga Aceh
Untuk mengambil kesempatan itu, Salsa harus rela untuk berpisah dengan orang tuanya di Turen.
Itu karena dia harus menjalani latihan secara intensif dan tinggal di asrama.
Kedua orang tua Salsa akhirnya memberi izin.
”Mereka selalu dukung apapun cita-cita saya,” jelasnya.
Masa-masa awal cukup sulit untuk Salsa.
Pada usia nya yang baru menginjak 10 tahun, dia harus bertemu dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Mulai dari pindah sekolah dari SDI Riyadlul Mubtadiin Turen ke SDN Tlogopatut Gresik.
Sampai tinggal di asrama dengan pola hidup yang berbeda.
”Dari bangun pagi sampai tidur malam semuanya sudah diatur,” jelasnya.
Namun, proses itu tidak begitu lama dilewati Salsa.
Dia akhirnya mulai akrab dengan atlet lain dan mengikuti rutinitas latihan di Pusalada.
Perbedaan usia yang tidak terlalu jauh membuat mereka mudah akrab.
Orang tua Salsa juga selalu mengunjunginya sebulan sekali di asrama.
Dengan bergabung bersama Puslatda Jatim, alumnus SMAN 1 Manyar Gresik mulai mengumpulkan berbagai prestasi.
Baca Juga: Terbang Layang Malang Terkendala Cuaca di Venue PON XXI
Seperti di Kejurnas Senam 2017, saat Salsa mendapatkan dua emas dan satu perak.
Pada tahun yang sama, dia mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) dan meraih satu emas serta satu perak.
Salsa pertama kali mengikuti ajang internasional pada 2018, yakni Asean School Games di Malaysia.
Salsa berhasil mendapatkan satu medali emas dan satu perunggu.
Berlanjut setahun kemudian, dia berhasil mendapatkan dua medali perak di Pra-PON.
Karena itu, Salsa lolos untuk debut di ajang multi cabor terbesar di Indonesia.
Pada usia yang baru menginjak 16 tahun, Salsa berhasil meraih dua perak di PON Papua 2021.
Namanya pun mulai dilirik dunia senam artistik nasional.
Dari situ dia semakin memupuk ambisi untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik di PON 2024.
Selama tiga tahun dia menempa diri dengan sungguh-sungguh di Surabaya bersama 11 atlet senam lainnya.
Dia tidak pernah absen latihan enam kali dalam sepekan.
”Satu hari latihan dua kali, pagi dan sore,” paparnya.
Mereka juga melakukan training camp di China.
Selama sebulan mereka berlatih di sana dengan fasilitas dan pelatih yang lebih bagus.
Baca Juga: Atlet Tinju Kota Batu Hadapi PON XXI 2024 dengan Menahan Cedera
”Di sana lebih ke pematangan rangkaian gerakannya saja,” tuturnya.
Rasa lelah dan bosan tidak bisa dihindari mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM) itu.
Ketika menghadapi situasi tersebut, Salsa biasanya mengambil rehat sebentar.
Dia memilih menghabiskan waktu dengan keluarga di Turen atau sekadar jalan-jalan.
Dengan persiapan yang lebih matang, Salsa akhirnya tampil dengan percaya diri di PON 2024.
Dia bisa mengeksekusi berbagai gerakan akrobatik dengan sangat baik di setiap nomor yang dia ikuti.
”Tubuh saya jauh lebih luwes karena percaya diri,” jelasnya.
Salsa menjadi atlet cabor senam dengan perolehan medali terbanyak dari 34 daerah.
Bahkan, Salsa menjadi penyumbang medali emas PON pertama bagi kontingen Jawa Timur.
Dia berharap bisa dipanggil ke pusat pelatihan nasional (Pelatnas).
Sehingga bisa mewakili Indonesia di SEA Games 2025.
”Cita-cita saya ingin mengibarkan merah putih di luar negeri,” ujarnya.
Terdekat, Salsa akan mengikuti ajang World Champion 2025. (/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana