Enam bulan sebelum perlombaan, jari tangan kanan Dois sempat retak dua kali.
Dengan balutan perban dan kain, dia berlatih secara mandiri.
Semangat pantang menyerah yang ditunjukkannya berbuah manis.
NAHDIATUL AFFANDIAH
Sembilan jam sebelum turun di cabang olahraga (cabor) downhill Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI, Mountain Bike (MTB) Arena Tahura Bukit Barisan, di Kabupaten Karo, Sumatera Utara diguyur hujan
Track sepanjang 1,7 km menjadi lebih licin.
Beberapa bagiannya juga rusak.
Meski begitu, Dois berhasil menaklukkannya.
Dia mencatatkan waktu 2 menit 49 detik.
Mengungguli 15 peserta lainnya di putaran final, 9 September lalu.
Beberapa tikungan tajam, area bebatuan, hingga lintasan yang dipenuhi akar pohon bisa dilewatinya dengan lancar.
”Mungkin karena saya sering berlatih di track Klemuk dan Trawas,” kata Dois.
Sejak dua tahun lalu, dia memang rutin berlatih di tiga track berbeda.
Di Bukit Klemuk, Kota Batu; Bukit Umbaran, Kabupaten Malang; dan di Trawas, Mojokerto.
Track di Klemuk dan Trawas cukup mirip dengan yang dihadapinya di PON XXI Aceh-Sumut.
Dalam dua tahun terakhir, atlet berusia 21 tahun itu juga kerap mengikuti perlombaan di tingkat lokal dan regional.
Sederet pengalaman itu turut mengasah mental dan tekniknya untuk berlaga di PON XXI.
Apes baginya terjadi saat mengikuti kejuaraan Jatim Series di Trenggalek, bulan Maret lalu.
Saat itu Dois terjatuh saat berlomba.
Track yang licin setelah diguyur hujan membuatnya terpental dari sepeda.
Tangan kanannya cedera.
Saat diperiksa di rumah sakit, empat tulang jari tangan kanannya retak.
Satu bagian tulang metacarpal juga patah.
Tulang metacarpal itu terhubung dengan tulang di bagian lengan bawah dan jari tangan.
Dois lantas dirujuk ke rumah sakit di Malang untuk operasi.
Dengan jadwal di PON XXI kurang dari enam bulan, Dois berupaya pulih.
Dia menghabiskan waktu selama dua bulan untuk pemulihan.
Dois yang pada dasarnya tidak bisa berdiam diri untuk waktu lama memilih untuk kembali berlatih.
Setelah diperban selama dua minggu dan bengkaknya mulai mereda, dia melahap menu latihan ringan.
Atlet asal Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang itu meminta rekomendasi ke- pada pelatihnya agar bisa berlatih secara mandiri.
Selama tiga bulan, Dois berlatih dengan sepeda statis.
Itu dilakukan untuk memperkuat otot paha dan betisnya.
Rutinitas itu dilakukan dengan tangan kanan tetap diperban dan digendong.
Pada awal bulan Mei, Dois pulih dan berlatih normal lagi.
”Saat itu semangat saya kembali membara karena bisa latihan di track lagi,” cerita Dois dengan wajah yang semringah.
Namun masalah kembali terjadi saat Dois jatuh di perlombaan di Banyuwangi, bulan Agustus.
Tangan kanannya kembali terasa sakit.
Saat itu PON XXI bakal digelar satu bulan lagi.
Dois memasrahkan penyembuhan cederanya kepada pelatih.
Dalam waktu dua pekan, dia mendapat perawatan intensif.
Setiap hari tangan kanannya rutin dikompres es.
Dia juga rajin meminum vitamin tulang.
Saat latihan, tangannya tetap diperban dan tidak boleh digerakkan sama sekali.
Satu minggu jelang perlombaan, tangan kanannya mulai sembuh.
Meski ada sedikit rasa nyeri, Dois tetap bisa berlaga di PON XXI.
Itu merupakan kejuaraan nasional pertamanya.
Hasilnya cukup mengesankan, karena Dois bisa menyumbang medali emas untuk kontingen Jawa Timur. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana