MALANG KOTA - Winna sudah terbiasa pulang lebih larut dibanding pelajar lainnya.
Setelah bersekolah, siswi kelas X SMA Negeri 1 Malang itu rutin berlatih.
Seperti saat ditemui Jawa Pos Radar Malang Selasa lalu (1/10) di halaman belakang PT ACA.
Saat itu, dia baru selesai latihan sepatu roda.
Dan, langsung bersiap mengikuti latihan dance.
Nomor dance koreografer dalam sepatu roda yang dia ikuti memang memadukan beberapa unsur.
Seperti drum band dan sepatu roda freestyle.
Dalam aksinya, dia biasa bergerak sambil membawa bendera dan melakukan sejumlah atraksi di cone penanda track.
”Ini latihan karena Sabtu nanti (5/10) akan tampil di Surabaya,” kata Winna.
Saat ada agenda perlombaan, latihannya memang lebih intensif.
Mulai hari Senin sampai Jumat, dia aktif berlatih pada sore hari.
”Sabtu dan Minggunya saya ikut melatih,” kata Winna. Ya, rutinitasnya tiap pekan memang diselingi sebagai asisten pelatih di klub Mafest (Malang Free style Slalom Team).
Dia hanya absen melatih saat mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh Sumut, beberapa waktu lalu.
Terhitung, kini dia sudah dua pekan kembali berada di Malang, Dia tiba dari Ka bupaten Pidie, Nangroe Aceh Darussalam pada 26 September.
Winna masih mengingat betul soal per juangannya dari awal seleksi sampai bisa mewakili Jawa Timur di PON.
Pertama-tama, dia harus mengikuti seleksi melalui babak kualitfikasi (BK) PON tahun lalu.
Kesempatan itu didapat karena dia mendapat medali emas di Porprov Jawa Timur 2023.
Kala itu, dia bersaing dengan atlet dari DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Winna meraih tempat ke tiga dan berhak bertanding ke Aceh.
Saat bertanding di Pidie Convention Hall, dia mengikuti nomor slalom dan classic slalom.
”Yang slalom saya kalah. Dapat (medali) emasnya itu yang di classic,” imbuh perempuan berusia 15 tahun itu.
Sejatinya, ada satu mata lomba lagi, yakni slide. Tapi satu atlet sepatu roda hanya diperbolehkan mengikuti dua nomor lomba.
Di nomor lomba slalom, kecepatan untuk melewati cone bakal dihitung.
Ada batasan waktu juga.
Sedangkan di nomor classic slalom, yang dinilai yakni keindahan gerak.
Sambil melaju, dia harus bergerak layaknya sedang menari sambil dengan iri ngan lagu.
Pertandingannya berlangsung pada 16 dan 17 Agustus.
Winna melawan kontingen DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Suma tera Utara, Sumatera Selatan dan Aceh.
Winna menang di mata lomba classic slalom setelah mendapat nilai 394.
Disusul tempat kedua dari DKI Jakarta yang mendulang 379 poin.
Di tempat ketiga ada kontingen dari Jawa Barat dengan 365 poin.
Penghuni tiga peringkat tersebut sejatinya dilawan juga pada saat BK PON.
”Tapi di pertandingan sebenarnya terbalik. Jabar itu pas kualifikasi malah juara satu, posisi ketiga baru saya,” kata dia sambil tersenyum.
KONI Jatim sejatinya tidak membebani cabor sepatu roda freestyle dengan target medali.
”Cuma pelatih saya saja yang menekankan harus meraih medali,” sebut dia.
Medali emas PON menjadi prestasi tertinggi bagi anak kedua dari empat bersaudara tersebut.
Terhitung sejak karier sepatu rodanya dimulai 10 tahun lalu, dia sudah mengikuti ratusan lomba.
Ke banyakan di level nasional.
Ada 30 medali yang sudah dikoleksi dia.
Wahyu Agus Triherwanto, 54, ayahnya selalu memberi support saat Winna bertanding.
Itu men jadi tambahan motivasi tersendiri baginya.
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana