KABUPATEN- Tragedi Kanjuruhan menghadirkan duka yang mendalam untuk insan sepak bola.
Baik itu yang berasal dari Indonesia atau luar negeri.
Salah satunya, Pelatih Kepala Arema FC Joel Cornelli.
Meski saat peristiwa kelam itu terjadi dirinya berada jauh dari Indonesia, namun juru taktik asal Brasil itu merasa sedih dengan insiden tersebut.
Terlebih, banyak yang menjadi korban adalah para pemain ke-12.
Di mana niatnya datang ke stadion memberi dukungan klub tercinta.
Karena itu saat tim libur lima hari lalu, Joel memanfaatkan salah satu waktunya untuk datang ke Stadion Kanjuruhan.
Dia ke kandang Singo Edan itu pada 29 September lalu bersama dengan dua pelatih asing, Gustavo Correa dan Tiago Simoes.
Selama sehari di sana, dia melihat perbaikan stadion dan berkeliling.
”Saya ingin mengungkapkan rasa duka yang mendalam,” tutur dia.
Menurutnya, tragedi Kanjuruhan merupakan peristiwa pahit yang tidak sekadar untuk sepak bola Indonesia.
Lebih jauh, untuk pencinta olahraga sikulit bundar di seluruh dunia.
Karena menyebabkan begitu banyak korban nyawa.
Joel bercerita, peristiwa kelam tersebut menjadi bahasan di seluruh dunia.
Di Brasil menjadi topik utama media-media dan banyak dibicarakan insan bola di negeri samba.
Karena itu, dia bisa mengetahui tragedi Kanjuruhan saat masih melatih klub Atlético Rondoniense.
Berangkat dari itu, Joel berharap kasus seperti tragedi Kanjuruhan tidak terjadi lagi.
Baik di Indonesia maupun di negara lain.
”Sepak bola Indonesia harus menjadi lebih bagus ke depannya,” ujar pelatih berusia 57 tahun itu.
Selain itu, kunjungan Joel ke Stadion Kanjuruhan mempunyai agenda lain.
Dia ingin melihat seperti apa homebase timnya nanti.
Mulai dari segi jarak dan bangunannya.
”Karena ini kandang kami yang sesungguhnya, Jadi kami menantikan bermain di Stadion Kanjuruhan,” jelasnya.
Baginya bermain away selama tiga musim terakhir bukan hal yang mudah.
Penggawa Singo Edan butuh tampil di rumah.
Lalu disaksikan pendukung tim.
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana