TUREN - Perbaikan Stadion Kahuripan di Desa Talok, Kecamatan Turen dilakukan secara perlahan.
Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Kabupaten Malang memfokuskan pada perbaikan lapangan rumputnya.
Diperkirakan mulai digarap pada tahun depan, 2025.
Lapangan rumput stadion dengan satu tribun itu memiliki permukaan rata.
Sejatinya, hal itu tidak akan menjadi penghambat laju bola kaki.
Tapi rumputnya sudah banyak yang mati dengan beberapa titik sudah tinggal tanah.
Juga dengan tanaman liar tumbuh di beberapa tempat.
Selain itu, tribun juga membutuhkan perhatian.
Bangku kayu di tribun utama ada beberapa yang lapuk.
Juga rail guard yang berkarat dan lepas.
Namun perbaikan yang direncanakan dispora belum mencapai ke sana.
”Kami fokus dulu ke lapangan,” kata Kabid Sarpras Dispora Kabupaten Malang Lusiani Ferelia kemarin.
Menurut dia, lapangan rumput di stadion berkapasitas 5 ribu penonton itu kurang pengairan.
Selama berbulanbulan penyiraman tidak maksimal meski alat sprinkle (penyebar air di lapangan)- nya baru.
Oleh karena itu, perbaikan sumur dilakukan akhir September lalu.
Lusiani mengatakan, sumur yang selama ini dipakai untuk kamar mandi dan penyiraman lapangan mengalami pendangkalan.
”Akhir September sudah diperdalam dan pompa airnya sudah dibelikan yang baru.
Anggarannya waktu itu Rp 70 juta,” sebut dia.
Anggaran tersebut berasal dari Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) APBD.
Rencana berikutnya adalah memperbaiki rumput lapangan.
Pihaknya tidak mendatangkan rumput khusus seperti di Stadion Kanjuruhan.
”Kami pakai rumput lokal saja,” ucap dia.
Dispora belum menyebut spesifik jenis rumput apa yang akan ditanam.
Namun yang jelas, perbaikan tersebut akan dilakukan tahun depan.
Ketika anggaran baru sudah digedok Pemkab Malang.
Dia mengatakan, tidak ada perbaikan aspek lapangan lain seperti drainase atau perataan tanah dalam rencana tahun depan itu.
Begitu pula dengan perbaikan tribun utama.
Dengan demikian, wacana pembangunan tribun keliling tidak akan terlaksana pada 2025.
Lusiani menegaskan, perbaikan baru sampai lapangan karena memang stadion tersebut jarang diadakan event olah raga.
”Tidak ada lagi SSB yang berlatih di sana. Warga juga jarang berolahraga di sana,” ujar dia.
Termasuk ketika Jawa Pos Radar Kanjuruhan menyambangi stadion tersebut kemarin (6/10).
Gerbang masuk lapangan ditutup.
Dan di depan, alias lapangan parkirnya dimanfaatkan warga untuk kumpul-kumpul saja. (biy/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana