Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Joko Muliyono Atlet Disabilitas Kota Batu Raih Medali Paralimpiade Nasional 2024, Dapat Tiga Emas dan Satu Perak

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 15 Oktober 2024 | 00:00 WIB
EMAS PERTAMA : Joko Muliyono menunjukkan medali emas yang dia raih pada nomor lari 100 meter Paralimpiade Nasional XVII 2024 di Solo, 7 Oktober lalu.
EMAS PERTAMA : Joko Muliyono menunjukkan medali emas yang dia raih pada nomor lari 100 meter Paralimpiade Nasional XVII 2024 di Solo, 7 Oktober lalu.

GRATIO IGNATIUS SANI BERIBE

JOKO Muliyono begitu puas setelah menuntaskan semua jadwal perlombaan di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024 di Solo, 6-13 Oktober lalu.

Joko Muliyono, pemuda 20 tahun itu, berhasil menyabet medali di semua nomor yang diikutinya.

Medali yang diperoleh Joko Muliyono terdiri dari tiga emas dan satu perak.

Namun, prestasi gemilang tidak didapatkan warga Kelurahan Pesanggrahan, Kota Batu itu dengan mudah.

Sebab, Peparnas 2024 merupakan debutnya di event olahraga tingkat nasional.

Dia juga mengalami problem dalam proses adaptasi dan padatnya jadwal pertandingan.

Joko bersama 18 atlet paraatletik Jawa Timur tiba di Kota Solo, tempat penyelenggaraan Peparnas 2024, pada 1 Oktober lalu.

”Saya baru pertama kali ke Solo,” ucapnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Malang pada Sabtu lalu (12/10).

Joko pun sempat merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan cuaca Solo.

Sebab, selama tiga bulan sebelumnya dia menjalani pemusatan latihan daerah Jawa Timur di Kota Surabaya yang cuacanya sangat panas, Sementara cuaca di Solo lumayan dingin.

Perbedaan suhu udara ternyata berdampak negatif pada kesehatan Joko.

”Saya langsung flu dan tidak enak badan,” jelas dia.

Beberapa kali Joko merasakan pusing.

Gejala itu selalu dia alami saat melakukan uji coba di Stadion Sriwedari sebagai venue cabor para-atletik.

Selain itu, Joko sempat mengalami problem pada bagian tulang keringnya.

Itu karena di Kota Batu dia sering melakukan latihan di lintasan yang permukaannya paving block.

Sementara di venue Peparnas, permukaan lintasannya berjenis sintetis dari bahan poliuretan dan karet.

“Ketika berlari kaki saya mendapat tekanan yang berbeda. Pengaruhnya sampai bagian tulang kering,” ucap alumnus SMAN 1 Kota Batu itu.

Problem di kaki Joko akhirnya bisa diselesaikan setelah melakukan empat kali uji coba.

Namun, kondisi kesehatannya masih belum membaik.

Dia bahkan tidak berani minum obat lantaran khawatir terdeteksi doping.

Masalah itu berlanjut hingga hari pertama turun berlomba pada 7 Oktober lalu.

Joko berlaga di nomor lari 100 meter.

Dia merasa gugup sebelum memulai pertandingan.

Itu karena tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih dari sakit.

Ditambah, hari itu menjadi debutnya di event para-atletik tingkat nasional.

Dia harus bersaing dengan para pelari lain yang sudah mencicipi turnamen tingkat internasional.

Namun, Joko berusaha keras untuk fokus.

Ketika peluit start berbunyi, dia tidak lagi peduli dengan apa pun yang dirasakan tubuhnya.

Segala kekuatan dikerahkan untuk bisa berlari lebih cepat.

”Alhamdulillah saya bisa menjadi yang tercepat saat itu,” ungkap Joko.

Dia mengalahkan enam pelari lain dengan catatan waktu 11,59 detik.

Joko menyentuh garis finish lebih cepat 0,4 detik dari posisi kedua yang ditempati atlet Jawa Timur Firza Faturahman Listianto.

Rasa percaya diri alumnus SMP Satu Atap Pesanggrahan, Kota Batu, itu pun meningkat.

Kondisi kesehatannya juga perlahan membaik berkat asupan vitamin dan pemulihan di gym hotel.

Alhasil, dia lebih siap untuk pertandingan pada hari selanjutnya.

Pada 8 Oktober, Joko turun di nomor lari estafet 4x400 meter.

Dia bekerja sama dengan tiga pelari Jatim lainnya.

Yakni Anas Ichsanul Amal, Ryan Arda Diarta, dan Firza Faturahman Listianto.

Namun, beban yang dirasakan Joko lebih berat karena dia menjadi pelari terakhir dan penentu kemenangan.

Tim Jatim bersaing ketat dengan empat daerah lainnya di nomor itu.

Namun, sampai orang terakhir, hanya dua tim yang bersaing untuk memimpin.

Yakni Jatim dan tuan rumah Jawa Tengah.

Setelah menerima tongkat, Joko berlari secepat mungkin dan mampu lebih cepat 1 detik dari pelari tuan rumah.

Catatan waktunya 45,94 detik.

Setelah mendapatkan dua medali emas, keesokan harinya Joko malah menjalani hari yang berat.

Itu karena terdapat dua pertandingan sekaligus pada hari yang sama.

Yakni fase penyisihan lari 200 meter, kemudian final lari 200 meter.

Pada babak penyisihan, Joko menjadi yang tercepat dari tujuh pelari lainnya.

”Tapi saat sampai final, tenaga saya sudah mau habis,” ucapnya.

Itu karena dia hanya diberikan waktu istirahat enam jam dari babak penyisihan.

Joko juga sudah bertanding selama tiga hari berturut-turut.

Ditambah, dia merasa tertekan karena diberikan target untuk meraih emas di nomor tersebut.

Namun, Joko tidak menyerah dan berusaha melampaui batasan dirinya sendiri.

Alhasil, dia mendapatkan medali emas ketiga di Peparnas 2024.

Unggul dari lima pelari lainnya dengan catatan waktu 23,44 detik.

Lebih cepat 0,3 detik dari wakil Jateng yang menempati posisi kedua.

Mendapatkan tiga emas membuat Joko bisa memenuhi target medali yang diberikan kepadanya.

”Saya sangat lega dan bersyukur setelah itu,” tutur dia.

Meski demikian, Joko masih harus turun di nomor lari 400 meter keesokan harinya, yakni pada 11 Oktober.

Tapi dia menjalaninya tanpa beban.

Joko akhirnya finish di urutan kedua dan berhak mendapatkan medali perak.

Lebih lambat 3 detik dari wakil Jateng, tapi masih bisa menyisihkan empat atlet lainnya.

Joko tidak menyangka bisa meraih tiga medali emas dan satu perak pada debutnya di event nasional.

Sebab, pria kelahiran 19 Maret 2004 itu baru terjun di dunia paraatletik sekitar tujuh bulan lalu.

Awalnya iseng ikut tren balapan lari jalanan saat bulan Ramadan.

Ternyata, dia malah ditawari menjadi atlet Kota Batu di Perparpov Jatim 2024.

Kemudian berlanjut mewakili provinsi Jatim di Peparnas 2024.

Kini, Joko menyimpan impian untuk bisa dipanggil ke pusat pelatihan nasional paraatletik Indonesia.

Dia ingin bisa tampil di Asian Para Games 2026 di Jepang.

”Setelah membanggakan provinsi, saya ingin mengharumkan nama Indonesia,” tandas Joko. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#joko muliyono #Medali #paralimpiade nasional indonesia #2024