NAHDIATUL AFFANDIAH
TIGA medali dibawa pulang Zahra Nur Azizah ke rumahnya di Kecamatan Kepanjen, kemarin (14/10).
Medali Zahra Nur Azizah tersebut terdiri dari dua medali emas dan satu medali perak.
Tiga medali itu diraih Zahra Nur Azizah setelah tiga hari bertanding di cabang olahraga (cabor) renang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII 2024 di Solo.
Raihan itu lebih mengesankan karena dia juga sanggup mencatatkan rekor baru.
Turun di nomor 50 meter gaya punggung putri kategori S9 (perenang dengan tingkat disabilitas kelemahan parah di salah satu kaki), 12 Oktober lalu, dia mencatatkan waktu 39.59 detik.
”Di pertandingan terakhir itu saya bisa memecahkan rekor nasional yang bertahan sejak tahun 2016,” ujar Zahra.
Sebelumnya, rekor di nomor tersebut dipegang oleh Norlatifah, atlet asal Bandung dengan waktu 43.83 detik pada Peparnas 2016.
Sebelum turun di nomor itu, dia sempat merasakan ketidakpuasan saat turun di perlombaan kedua.
Dari enam peserta, ada tiga atlet kategori S9.
Sementara itu, tiga lainnya adalah atlet kategori S10 (perenang dengan gangguan fisik yang memiliki kemampuan fungsional tertinggi).
Dengan kaki satu, Zahra harus melawan atlet-atlet dengan dua kaki.
Kendati demikian Zahra tidak berkecil hati.
Dia tahu batas kemampuannya dan tetap mencoba yang terbaik.
Di pertandingan itu Zahra menempati posisi kedua dengan waktu 39.72 detik pada 50 meter gaya kupu-kupu putri.
”Saya ingat-ingat kata pelatih saya waktu latihan. Intinya jangan melihat siapa lawannya, selagi mampu terjang saja,” kata Zahra menirukan kalimat pelatihnya.
Meski hanya menyiapkan diri secara intensif dalam dua pekan, Zahra memang punya banyak modal.
Atlet dari Sekolah Khusus Olahraga Disabilitas Indonesia (SKODI) itu rutin berlatih setiap hari.
Hanya saja selama dua minggu persiapan Peparnas 2024 itu, frekuensi berlatihnya ditambah.
Belum lagi ada jadwal belajar di SMK Negeri 9 Surakarta.
Pada hari biasa, Zahra akan berlatih rutin pada pagi dan sore hari.
Namun pada persiapan Peparnas selama dua pekan, intensitas latihannya menjadi dua kali lipat karena ada sesi latihan malam.
”Ritmenya berubah. Pagi stretching, lanjut sekolah sampai siang, sore latihan gym, malam baru latihan renang,” papar atlet yang kehilangan kaki kirinya pada usia dua tahun karena kecelakaan mobil itu.
Menurutnya, kedisiplinan berlatih adalah kunci utama untuk kecepatan performanya di Peparnas.
Poin itu sudah dia tunjukkan dalam dua tahun terakhir.
Saat itu, Zahra rela merantau ke Surakarta saat usianya 14 tahun.
Saat duduk di bangku kelas delapan SMP, dia memutuskan berpindah ke SMP 25 Surakarta dan mengikuti latihan rutin di SKODI.
Dari sana, perlahan keinginannya mengikuti kejuaraan-kejuaraan nasional hingga internasional mulai muncul.
”Papernas ini menjadi pijakan awal saya untuk mengikuti kejuaraan nasional lain, bahkan sampai internasional nanti,” terang dia.
Sebagai anak perempuan pertama, Zahra merasa dirinya harus berprestasi untuk memberi contoh yang baik kepada adiknya.
Itulah yang melecut semangatnya untuk memantapkan karier sebagai atlet disabilitas.
Target selanjutnya, dia berharap bisa mengikuti kejuaraan Paralimpik hingga tingkat internasional. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana