Cabor senam Kota Malang masih terkendala menggulirkan pra-pusat pelatihan kota (Puslatkot) untuk Porprov Jawa Timur 2025.
Itu karena, mereka masih berlatih menggunakan alat-alat lama.
Akibat fasilitas usang, latihan mereka menjadi kurang bisa maksimal.
Ketua Persatuan Senam Indonesia (Persani) Kota Malang Anna Mairatna mengatakan, alat-alat seperti bola, simpai, dan sepatu sudah lebih dari dua tahun digunakan.
Karena itu, kualitasnya tidak bagus untuk dimanfaatkan para atlet berlatih.
Selain itu, pakaian untuk bertanding juga mereka sudah lama tidak diganti.
”Anggaran kami sekarang masih belum bisa membeli peralatan latihan yang baru,” jelas Anna.
Itu karena, satu baju senam artistik cukup mahal.
Di mana harganya, berada di kisaran Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta.
Sampai saat ini, support pendanaan dari KONI Kota Malang menurun jumlahnya.
Di mana, hanya cukup digunakan untuk program pembinaan saja.
Tidak tersisa untuk memperbarui alat untuk latihan dan kostum pertandingan.
Anna menjelaskan, kekurangan fasilitas tersebut berpotensi membuat para atlet kesulitan meningkatkan performa.
Dia mencontohkan, sepatu yang tidak diganti dapat membuat atlet kurang maksimal saat berlari.
Pakaian yang sudah lama akan mengganggu kenyamanan para atlet untuk melakukan berbagai gerakan akrobatik.
Perlu diketahui, alat-alat itu tidak hanya digunakan untuk latihan saja.
Tetapi untuk perlombaan juga.
”Jadi sangat berpengaruh terhadap performa dan prestasi yang akan kami raih nanti,” paparnya.
Meski begitu, Persani Kota Malang tidak hanya tinggal diam.
Mereka sejatinya sudah mengajukan pengadaan alat-alat penunjang latihan itu kepada KONI Kota Malang.
Bahkan dari awal tahun ini. Tapi, sampai saat ini pihaknya masih terus menunggu. (tio/gp)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana