Gratio Ignatius Sani Beribe
TOTAL ada 15 medali yang didapat klub renang Taman Harapan Kota Malang milik Gigih Hartono di ajang Timbul Swimming Competition 2024, Pasuruan, Minggu lalu (20/10).
Setelah dua hari mendampingi atlet-atletnya, capaian itu membuat Gigih puas.
”Kami mendapat lima medali emas, lima perak, dan lima perunggu,” kata Gigih.
Pencapaian tersebut hanya sebagian kecil dari sederet prestasi yang pernah diraih Gigih.
Sepanjang 12 tahun karier kepelatihannya, dia sudah melahirkan puluhan atlet renang berprestasi dari Bhumi Arema.
Mulai dari tingkat daerah sampai internasional.
Umumnya, mereka yang menjadi pelatih adalah mantan atlet.
Predikat itu tak berlaku untuk Gigih.
Pria berusia 66 tahun itu awalnya hanya suka dengan aktivitas berenang.
”Sekadar suka, lalu saya mengajari renang tiga anak saya,” jelas dia.
Anak ketiganya, Sandy Satya Putra Hartono, punya minat lebih.
Karena itu, Gigih akhirnya memasukkan Sandy ke klub renang Taman Harapan Kota Malang pada 2002.
Sebagai orang tua, dia selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan di klub.
Setahun setelahnya, klub renang Taman Harapan mengalami masalah keuangan.
Lantas diputuskan untuk gulung tikar.
”Saya sebagai orang tua peserta di sana sangat menyayangkan,” jelas Gigih.
Itu karena, klub renang tersebut sudah menjadi wadah banyak anak-anak untuk menyalurkan bakat dan minat mereka.
Atas dorongan orang tua peserta yang lain, Gigih menawarkan diri untuk menjadi manajer di klub renang Taman Harapan.
Di bertekad memperbaiki pengelolaan klub.
Supaya tidak mengalami defisit dan terancam bubar lagi.
Sejak menjadi manajer di klub renang itu lah, Gigih mulai nyemplung lebih dalam ke olahraga renang.
Selain sibuk mengurusi aspek manajerial, dia juga memperhatikan proses latihan anggota klub.
Dalam sepekan, dia menyempatkan hadir ke Kolam Renang Stadion Gajayana selama lima hari.
Itu dilakukan untuk memantau proses latihan.
Selama 10 tahun Gigih melewati proses tersebut.
Akhirnya, pada tahun 2012, pria kelahiran 1958 itu memutuskan menjadi pelatih.
”Saya ingin dapat pengalaman baru di olahraga renang,” jelas dia.
Gigih belajar secara otodidak untuk menjadi pelatih.
Caranya dengan melihat bagaimana pelatih-pelatih memberi masukan mengenai teknik berenang.
Selain itu, Gigih juga mempunyai latar belakang sebagai pemain basket saat mengenyam pendidikan di SMA Kalam Kudus.
Karena itu, dia sedikit banyak mengetahui persoalan fisik dan kedisiplinan sebagai seorang atlet.
Ketika berkarier sebagai pelatih, Gigih mulai membimbing anak-anak di Malang untuk menjadi atlet renang.
”Kalau program di Taman Harapan, itu sudah dimulai dari usia TK,” jelas dia.
Dengan program latihan yang dia bangun di klub Taman Harapan, Gigih telah melahirkan banyak atlet renang dari Kota Malang.
Atlet-atlet binaannya kerap menjadi andalan di kejuaraan-kejuaraan tingkat regional.
Seperti Porprov dan Kejuaraan Renang Daerah.
Namun, terdapat dua atlet asuhannya yang mempunyai prestasi paling menonjol.
Yang pertama yakni Giovana Joice Chandranita.
Dia berhasil meraih medali emas di Indonesia Open Aquatic Championship 2023.
Berikutnya ada Izzy Dwifaiva Hefrisyanthi.
Anak didik Gigih itu sudah malang sering menjuarai berbagai event nasional dan internasional.
Terakhir, Izzy mampu membawa pulang lima medali emas di PON 2024, September lalu.
Tidak hanya di level atlet, klub renang Taman Harapan juga sering mendapatkan prestasi.
Paling baru, mereka menjadi juara ketiga di Kejuaraan Renang Jatim Open 2023.
Mereka berhasil tampil dominan di antara 96 klub dari sembilan provinsi di Indonesia.
Berkat rekam jejak yang gemilang di level klub, Gigih sering dipercaya mendampingi kontingen Kota Malang di event-event tingkat daerah dan nasional.
Dia juga pernah menjadi pelatih untuk timnas renang di ajang internasional 2nd Southeast Asia Open Water Swimming Championship 2024.
Dalam kejuaraan yang digelar di Pantai Jimbaran, Bali, anak didiknya Izzy mendapat medali emas.
”Melihat anak-anak saya bisa mendapat prestasi itu sebuah kepuasan tersendiri bagi saya,” jelas dia.
Meski begitu, berkarier sebagai pelatih renang juga mendatangkan tantangan tersendiri baginya.
Gigih kerap mendapati atlet-atlet yang tidak konsisten dengan jadwal latihan.
Lalu juga mendapati adanya peserta yang mengundurkan diri dari klub.
”Ada juga anaknya yang semangat, tapi orang tuanya yang mundur,” jelas dia.
Itu sering terjadi karena renang bukanlah olahraga yang murah.
Butuh biaya yang cukup besar.
Mulai dari peralatan, fasilitas, sampai konsumsi di rumah harus betul-betul diperhatikan.
Gigih belum berpikir untuk rehat dari dunia kepelatihan setelah 12 tahun.
Dia masih ingin melahirkan banyak atlet berprestasi dari Kota Malang.
Terdekat, Gigih sedang menyiapkan atletatletnya untuk berlaga di Jatim Open 2024 yang akan berlangsung besok (23/10). (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana