PERSIAPAN cabor menembak Kabupaten Malang untuk menghadapi Porprov Jawa Timur 2025 mendapat hambatan.
Mereka masih kesulitan untuk menjaring atlet dari Kabupaten Malang.
Itu karena, kebanyakan peminat olahraga menembak di Kabupaten Malang belum tertarik untuk terjun ke ranah prestasi.
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) Kabupaten Malang Panca Tunas Prayudi mengatakan, kebanyakan warga Malang yang berminat dengan dunia menembak adalah mereka yang suka berburu.
Menurutnya, lima klub yang bernaung di bawah Perbakin Kabupaten Malang berasal dari komunitas yang fokus dengan aktivitas tersebut.
”Mereka gabung dengan kami untuk memenuhi legalitas penggunaan senjatanya,” jelasnya.
Karena itu, pihaknya masih kesulitan untuk mendorong anggota klub-klub di Kabupaten Malang untuk terjun di ranah prestasi.
Alhasil, stok atlet mereka untuk Porprov Jatim 2025 tidak banyak saat ini.
Panca menjabarkan, seperti di nomor pistol.
Untuk sementara, baru mengantongi empat atlet.
Padahal idealnya, nomor tersebut perlu diisi enam atlet.
Dia menjelaskan, susah bagi pihaknya untuk mendapatkan atlet dari luar klub.
Itu karena, olahraga menembak sangat eksklusif.
Contohnya untuk peralatan, para atlet harus merogoh sakunya lebih dalam.
”Kalau harga senapan itu sekitar Rp 10-25 juta. Sementara pistol bisa sampai Rp 80 juta,” paparnya.
Meski begitu mereka tidak menyerah.
Demi mengatasi situasi tersebut, Perbakin Kabupaten Malang secara perlahan melakukan sosialisasi ke klub-klub menembak. (tio/gp)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana