RADAR MALANG - Tiga bulan lalu, Eko Dewa Sukayanto resmi pensiun sebagai guru olahraga di SMKN 3 Malang.
Seusai purna tugas sebagai pegawai negeri sipil (PNS), pria berusia 60 tahun itu menyibukkan diri dengan kegiatan di klub sepatu roda Prokagana di Kota Malang.
”Pagi-pagi begini saja langsung lihat-lihat data atlet Mas,” tutur dia, kemarin.
Saat ini dia tengah fokus menyiapkan atlet binaannya di klub untuk mengikuti beberapa kejuaraan.
Salah satu yang cukup menyita perhatiannya yakni agenda Porprov Jawa Timur 2025.
Ada dua atlet dari klub Progana yang diproyeksikan menjadi kontingen Kota Malang di ajang multi-event tersebut.
Usaha menelurkan atletatlet sepatu roda berprestasi dari Kota Malang sudah dijalani Eko sejak 35 tahun lalu.
Eko juga sudah malang melintang di dunia perwasitan sepatu roda.
Baik di tingkat nasional maupun internasional.
Warga asli Surabaya itu mulai berpindah di Kota Malang pada 1989 untuk menjalankan tugas sebagai PNS.
Saat menetap di Surabaya, ayah dua anak itu sudah berkecimpung di dunia kepelatihan sepatu roda.
Eko juga mantan atlet sepatu roda Jawa Timur.
Dia kemudian mendalami ilmu mengenai dunia kepelatihan di Universitas Negeri Surabaya.
Lantas, pada 1988 dia debut menjadi pelatih kontingen Jatim di turnamen Piala Ibu Negara.
Saat itu, timya berhasil menjadi juara umum.
Ketika pindah ke Malang, Eko bergabung dengan klub sepatu roda Kagana.
Di sana, dia langsung dipercaya menjadi pelatih.
Saat itu, minat warga terhadap sepatu roda belum seramai sekarang.
Mengingat, olahraga yang berasal dari Eropa itu vakum dipertandingkan di PON seusai tahun 1985.
”Waktu itu pembinaan atlet masih susah. Karena jenjang turnamennya juga tidak ada,” jelas dia.
Baru pada 2004, sepatu roda kembali dipertandingkan dalam PON.
Eko kembali ditunjuk untuk membina atlet dari Jawa Timur.
Mereka mendapat banyak medali di kejuaraan yang digelar di Palembang itu.
Setelah dari Palembang, Eko tidak aktif lagi menjadi pelatih di tingkat provinsi.
Dia lebih memilih fokus melakukan pembinaan di Kota Malang.
Itu karena regenerasi atlet di Bumi Arema mulai menurun.
Dukungan dari pemerintah berupa fasilitas dan pendanaan operasional juga seret.
”Saya punya perhatian penuh waktu itu dengan klub. Sebab, keadaan cukup sulit waktu itu,” jelasnya.
Selama vakum untuk membina atlet di tingkat provinsi, Eko mulai mempelajari bidang lain dalam dunia sepatu roda.
Yakni perwasitan.
Pada saat itu, dia harus belajar secara otodidak.
Sebab, Pengurus Besar Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (PB Porserosi) belum mempunyai program lisensi bagi wasit.
Berkat usahanya, Eko kemudian ditunjuk menjadi koordinator wasit di SEA Games Palembang 2011.
Baca Juga: Persiapan Porprov, KONI Kota Malang Ukur Fisik 959 Atlet
Mendapat kepercayaan sebesar itu, Eko sempat merasa gugup.
Dia merasa pengetahuan dan pengalamannya sebagai wasit sepatu roda belum terlalu banyak.
Namun, sudah diberikan tanggung jawab di event internasional.
Ditambah, kemampuan Bahasa Inggrisnya belum cukup baik.
Itu membuat Eko kesulitan dalam berkomunikasi dengan kontingen maupun utusan wasit dari luar negeri.
”Akhirnya, sempat terjadi keributan saat saya menjadi wasit di SEA Games,” jelas dia.
Saat insiden itu terjadi, Eko mendapat bantuan dari utusan wasit asal China Taipei.
Wasit itu mempunyai pengetahuan lebih mengenai pengoperasian fasilitas perlombaan.
Karena itu, dia dapat memberikan penjelasan yang lebih baik kepada kontingen yang melakukan protes mengenai ketidakakuratan perhitungan.
Meski begitu, Eko mendapat banyak pelajaran dari event tersebut.
Dia bersama rekan wasit Indonesia di SEA Games mendorong PB Porserosi untuk memiliki pembinaan yang berkelanjutan terkait perwasitan sepatu roda.
Akhirnya, organisasi itu mulai mendatangkan wasit-wasit dari luar negeri untuk melakukan transfer pengetahuan.
”Perserosi juga sudah ada program lisensi wasit,” tutur Eko.
Meski demikian, peminatnya masih sedikit.
Selepas itu, Eko lebih sering ditunjuk menjadi wasit di event-event sepatu roda nasional.
Di antaranya PON Riau 2012, Porprov Jawa Timur 2019, dan PON Papua 2021.
Tidak hanya karier sebagai wasit saja yang meningkat.
Usahanya mengembangkan sepatu roda di Kota Malang juga menunjukkan hasil.
Salah satu atlet yang dia bina di klub, yakni Yossy Aditya Nugraha mendapat dua medali emas saat debut di PON 2016.
Sejak saat itu, dia tidak pernah absen mendapatkan medali di ajang PON.
Terakhir pada bulan September lalu, Yossy membawa pulang dua emas, satu perak, dan satu perunggu dari PON XXI Aceh-Sumut.
Sampai saat ini, Eko belum berpikir untuk pensiun sebagai pelatih sepatu roda.
Menurutnya, pelatih merupakan pahlawan tanpa tanda jasa.
Selain menjadi pelatih, Eko tetap ingin berkiprah sebagai wasit sepatu roda.
Dia juga bertekad aktif melakukan sosialisasi mengenai perwasitan sepatu roda di Indonesia.
Khususnya di daerah-daerah.
Itu karena, peminatnya yang masih sangat sedikit sampai saat ini.
”Kalau sepatu roda ingin maju, bukan hanya atlet dan pelatih saja (yang perlu diperhatikan). Wasit juga perlu,” jelas dia. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana