MINGGU, 17 November 2024 menjadi momentum bersejarah bagi Altair.
Pagi itu, diantar kedua orang tuanya, dia bertanding di partai final World Kyokushin Kaikan di Kagoshima, Jepang.
Itu merupakan salah satu turnamen karate bergengsi di dunia.
Hasilnya sesuai harapan.
Dia berhasil membawa pulang medali emas.
Catatan itu menjadi lebih istimewa karena turnamen di luar negeri tersebut adalah pengalaman pertama bagi Altair yang masih duduk di kelas 6 SD.
”Saya diundang secara langsung untuk ikut bertanding ke Jepang,” terangnya pada Jawa Pos Radar Malang, Sabtu lalu (30/11).
Al, sapaan akrabnya, datang ke turnamen itu bersama dua atlet lain dari Kota Malang.
Dia sendiri sudah belajar karate sejak usia 8 tahun.
Altair mengikuti jejak ayah nya di usianya yang masih cukup belia, dia sudah mengoleksi delapan gelar juara bela diri di tingkat nasional maupun internasional.
Seperti medali emas di Kyokushin Kaikan World Champion 2024, Sunset Fight Show 2024, dan Ifko Fighting Championship 2023.
Tiga bulan sebelum pertandingannya di Jepang, dia sudah melakukan berbagai macam persiapan.
Seperti berlatih setiap pulang sekolah hingga petang.
Setelah salat subuh, dia juga menyempatkan diri berlatih.
”Saya sekaligus menurunkan berat badan (BB) lima kilogram dalam waktu seminggu,” imbuh siswa SD Plus Al Kautsar, Malang itu.
Itu wajib dilakukan karena dia masuk di kategori U12 BB50.
Sehingga, Al harus menjaga kondisi tubuhnya agar bisa bertanding dengan lawan yang setimpal.
Selain berat badan, dia juga harus melatih lagi beberapa teknik karatenya.
”Karena di Jepang tekniknya beda sekali dengan orang Indonesia,” kata dia.
Atlet karate Jepang lebih agresif dibanding atlet lokal.
Mereka juga punya daya tahan terhadap pukulan lawan.
Dua atlet lain dari Kota Malang bertanding lebih dulu darinya.
Namun, belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Al yang menjadi harapan terakhir untuk menyabet juara.
Dia juga tampil pada hari terakhir kompetisi.
Hal itu tak membuatnya gentar.
Dia semakin termotivasi untuk mengerahkan kemampuannya demi meraih juara.
Atlet dari Perguruan Mushikawa Karate Do Indonesia Malang itu berhasil melemparkan pukulan dan menjatuhkan dua lawannya dari Jepang.
Itu dia lakukan di babak penyisihan.
Total ada tiga pertandingan yang dia jalani.
Pada partai puncak, dia melawan atlet dari Rusia.
Setelah kembali unggul, dia berhasil mengibarkan bendera Indonesia dan mendapat medali emas pertamanya di kancah internasional.
Itu sekaligus menjadi emas kontingen Indonesia di ajang Kyokushin Kaikan dalam 28 tahun terakhir.
Setiap tahun, Indonesia selalu memberangkatkan atlet ke ajang tersebut.
Selain atlet atlet junior, juga ada atlet senior yang berpartisipasi.
Setelah pertandingan, dia mengetahui bila ibu jari sebelah kanannya cedera.
”Belum sempat di rontgen, mungkin dalam waktu dekat,” tutur bocah yang tinggal di Jalan Kenanga Indah, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang itu.
Namun, rasa sakit itu seakan terbayar lunas dengan kebanggaannya mengantongi medali emas.
Dia tak menyangka bisa meraih itu di pertandingan debutnya di luar negeri.
Bocah kelahiran 2012 itu kini makin dikenal publik.
Dia sempat diarak puluhan orang menggunakan mobil Baracuda Satbrimob Polda Jatim.
Al diarak dari exit tol Singosari menuju Balai Kota Malang pasca kepulangannya ke Kota Malang pada 22 November lalu.
”Rasanya masih bangga dan tidak menyangka bisa ada di titik ini,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara itu.
Dia terus ingin mengharumkan nama Indonesia dengan prestasi.
Al berkomitmen untuk terus berlatih untuk menempa diri agar lebih berprestasi.
”Tahun depan saya juga di undang untuk bertanding di Italia, sudah saya persiapkan dari sekarang,” pung kas dia. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana