Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Loyalitas Pendukung Arema Indonesia di Tengah Isu Dualisme, Siap Mematuhi Putusan Hukum, Utamakan Kedamaian

Bayu Mulya Putra • Rabu, 8 Januari 2025 | 17:17 WIB
SETIA: Para pendukung Arema Indonesia menyanyikan chant bersama di depan Stadion Gajayana, Senin lalu (6/1). GRATIO IGNATIUS S.B. / RADAR MALANG
SETIA: Para pendukung Arema Indonesia menyanyikan chant bersama di depan Stadion Gajayana, Senin lalu (6/1). GRATIO IGNATIUS S.B. / RADAR MALANG

Mereka tetap legawa meski dicibir sejumlah pihak. 

Selain loyalitas, salah satu misi dari eksistensi mereka adalah pesan kedamaian untuk semua pihak. 

Khususnya kepada mereka yang suka dan bergelut di dunia sepak bola tanah air.
GRATIO IGNATIUS SANI BERIBE

Gerimis yang turun pada Senin sore (6/1) tidak menyurutkan semangat ratusan pendukung Tim Arema Indonesia. 

Di depan Stadion Gajayana, mereka mengumandangkan beberapa chant. 

Lia Astuti menjadi satu dari segelintir perempuan yang berada di kerumunan itu.

 Baca Juga: Arema Indonesia Batal Berlaga di Laga Perdana Liga 4 Meski Sudah Ganti Nama

Dia datang bersama suaminya, Arya Sandi Pratama. 

Juga bersama anak nya yang masih balita. 

Di balik pekikan chant yang ikut dikumandangkannya, Lia merasakan kekecewaan yang mendalam. 

Itu karena klub kebanggaannya batal bertanding di laga perdana Liga 4 zona Jawa Timur pada hari itu. 

”Padahal kami datang jauh-jauh dari Kebumen, Jawa Tengah,” tutur perempuan berusia 23 tahun itu. 

Mereka berangkat dari Kebumen pada pukul 17.00, sehari sebelumnya.

Lalu menempuh perjalanan selama delapan jam untuk sampai ke Kota Malang. 

Suaminya harus mengambil cuti kerja untuk bisa menonton laga perdana Arema Indonesia. 

Ketika sudah di tengah jalan, mereka mendapat informasi bahwa pertandingan grup G Liga 4 Jatim ditunda. 

Termasuk laga antara Arema Indonesia kontra Blayu FC. 

Meski begitu, Lia beserta suaminya tetap memutuskan ke Malang. 

Begitu juga dengan pendukung Arema Indonesia lainnya. 

Jika tidak bisa mendukung tim kebanggaan, setidaknya mereka bisa berkumpul bersama rekan rekan yang lain. 

Arya, suami dari Lia mengaku tidak ingin melewatkan pengalaman itu. 

”Saya dan istri memang sudah jadi Aremania sejak masih kecil,” tutur dia. 

Dia pantang untuk berpindah klub kebanggaan. 

Baginya, suporter sepak bola sejati adalah mereka yang tetap setia mendukung timnya. 

Meski saat ini, timnya harus menempuh perjuangan dari bawah. 

Ditambah, ada problem dualisme yang tak kunjung usai. 

”Kami membuktikan slogan Arema tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana,” tutur pria berusia 24 tahun itu. 

Meski  tidak berasal dari Malang, kecintaan Arya terhadap klub kebanggaannya tidak pernah luntur. 

Kesetiaan dari keluarga Arya dan Lia itu hanya menjadi satu contoh. 

Masih banyak yang punya kesetiaan serupa. 

Seperti Teddy Krisna Putra. 

Pria asal Malang itu setia mendukung Arema Indonesia sejak turun takhta pada 2017 lalu. 

Saat itu, dia menjadi dirigen suporter. 

”Jadi dirigen selama tujuh tahun. Sebab, 2024 saya jadi anggota Presidium Aremania Satu, jadi harus regenerasi,” tutur pria berusia 37 tahun itu. 

Awal membangun basis suporter Arema Indonesia tidak mudah bagi Teddy dan rekan-rekannya. 

Sebab, mereka merupakan kalangan minoritas. 

”Kami dipandang rendah pada waktu itu,” tutur dia. 

Ditambah, Arema Indonesia berada di kasta terendah, yang area bertandingnya hanya berada di Jawa Timur. 

Dimana tingkat fanatisme antar suporter cukup tinggi. 

Alhasil, banyak potensi konflik yang mereka alami. 

Namun, Teddy bersama rekannya selalu ingin memperbaiki citra Aremania di kalangan pendukung sepak bola tanah air. 

Karena itu, dia tidak ingin terpancing dengan segala bentuk provokasi. 

”Kami akhirnya yang menggagas jargon-jargon seperti Football without Violence dan Friendship without Frontier,” jelas dia. 

Berkat jargon itu, wajah pendukung Arema Indonesia mulai dipandang positif suporter tim-tim lain. 

”Tapi, malah di kota sendiri kami dicaci maki,” jelas Teddy. 

Sejak saat itu, kelompok Aremania yang menghuni Stadion Gajayana itu berubah menjadi komunitas yang lebih luas. 

Mereka lebih aktif membuat forum-forum diskusi dan kegiatan sosial. 

Itu karena mereka hanya menghuni tribun enam kali dalam setahun. 

Saat pandemi, mereka juga sering menggelar pertemuan secara virtual. 

Semangat untuk tetap solid dan setia mendukung tim kebanggaan adalah hal utama yang diusung pendukung Arema Indonesia. 

”Kami ini sudah minoritas. Jadi tidak boleh pecah lagi di dalamnya,” tutur Teddy. 

Isu dualisme Arema yang kini mencuat lagi turut disorotinya. 

Salah satu pihak diketahui memberikan somasi untuk melarang Arema Indonesia menggunakan nama Arema. 

Sikap Teddy adalah mengutamakan kedewasaan untuk menghadapi hal itu. 

Baginya, pihak yang kalah saat ada keputusan hukum harus legawa. 

Dan, tidak lagi menggunakan nama Arema. 

Begitu juga dengan kedua belah pihak suporter. 

”Saya Arema Indonesia sampai kapan pun. Tapi saya juga taat hukum,” tutur pria kelahiran 1988 itu. 

Karena itu, dia akan mendukung siapa pun pihak yang menang lewat jalur hukum. 

Baik itu Arema FC atau Arema Indonesia. 

Prinsip Teddy adakah Aremania adalah pendukung klub yang bernama Arema. 

Karena itu, pihak yang mengubah nama berarti sudah tidak layak lagi didukung Aremania. 

”Meski kalau nanti Arema Indonesia yang kalah, saya rasa tidak ada perjuangan kami yang sia-sia sebagai suporter,” jelas Teddy. 

Itu karena, mereka telah berhasil menularkan semangat kedamaian bagi sepak bola Indonesia selama ini. 

Baginya, itu lebih berarti dibanding menang atau kalah di meja dan lapangan hijau. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#arema indonesia #suporter