MENEMPA diri dengan tempat latihan yang kurang ideal masih sering dirasakan cabor di Kota Malang.
Salah satunya menghadapi situasi itu bola tangan.
Mereka terpaksa menempa diri di tim tempat seadanya dan outdoor akibat anggaran minim.
Asisten Pelatih Bola Tangan Kota Malang Syafi’ul Huda menjabarkan, situasi itu dirasakan sejak Januari 2025 lalu.
”Tahun lalu, kami bisa menyewa lapangan SM Futsal karena ada anggarannya,” papar dia.
Sekarang, berlatih di lapangan futsal outdoor Universitas Insan Budi Utomo.
Menurutnya, Disporapar Kota Malang tidak menerima pengajuan anggaran dari pihaknya untuk tempat latihan khusus.
Akibatnya, latihan bola tangan yang seharusnya berlangsung di tempat indoor harus diubah ke outdoor.
Bagi Hadi anggaran untuk venue latihan cukup krusial.
Itu karena, latihan atlet bola tangan kurang maksimal saat tidak di tempat yang ideal.
Dia mencontohkan, latihan dilakukan di lapangan futsal berlantai paving dapat membahayakan atlet.
Mereka berpotensi cedera dan mengalami berbagai insiden lain.
“Saat pakai lapangan ini (Lapangan Insan Budi Utomo) berbahaya karena bola tangan full body contact,” katanya.
Meski sudah mendapat venue latihan, masih ada problem untuk 32 atlet Bola Tangan Kota Malang. Huda dan tim harus menyesuaikan dengan aktivitas mahasiswa kampus.
“Terkadang harus mengalah. Karena status kami menumpang,” paparnya.
Karena itu beberapa kali harus mengubah program latihan.
Akibat pindah tempat menempa diri secara dadakan. Problem lainnya, tidak bisa berlatih saat sedang hujan.
Menurutnya, lantai lapangan yang licin dapat membahayakan atlet saat berlatih.
“Akhirnya saat hujan, kami hanya berlatih di gym,” ucapnya.
Saat ini, pihaknya telah berupaya mendapatkan persetujuan anggaran venue latihan dari KONI. (wb3/gp)
Editor : A. Nugroho