MALANG – Dua klub Inggris yang sedang terpuruk di Premier League, yakni Manchester United (MU) dan Tottenham Hotspur sukses menuntaskan perlawanan lawan-lawannya di semifinal Liga Europa UEFA dini hari tadi. Keduanya berhasil lolos ke partai puncak alias final kompetisi kasta kedua di Eropa ini. Dengan lolosnya dua klub ini, maka terciptalah All England Final.
Bermain di Old Trafford, kandangnya sendiri, MU tampil dominan atas Athletico Bilbao. Usai menang 3-0 di leg pertama, The Red Devils bermain cukup rileks. Mereka jauh lebih pragmatis dan tak mau keluar menyerang. Namun, justru dengan mentalitas itu, MU sempat tertinggal. Di menit ke-31, gelandang Bilbao Mikel Jauregizar mampu membobol gawang Onana. Bang! 1-0 untuk Bilbao.
Skor tersebut bertahan hingga turun minum. Masuk babak kedua, MU lebih agresif. Sejumlah pemain dimasukkan. Mulai Mason Mount hingga Amad Diallo. Dua pemain ini menambah daya gedor dan energi Manchester United. Hasilnya, gol balasan tercipta di menit ke-72. Mount sukses menceploskan bola ke gawang Bilbao usai menerima umpan bek muda, Leny Yoro. Seolah terpacu dengan gol itu, enam menit berselang gilirang Casemiro yang mencatatkan namanya di papan skor. Bahkan keran gol MU seolah tak berhenti, tiap enam menit mereka kembali mencetak gol. Mulai dari gol Rasmus Hojlund di menit ke-85 hingga Mount di ekstra time, penghujung babak kedua.
Skor 4-1 membuat MU lolos dengan agregat 7-1. Skor yang sangat menyakinkan karena di pertandingan yang lain, Tottenham Hotspurs juga menuntaskan perlawanan Bodo/Glimt 0-2 melalui gol-gol, Dominic Solanke dan Pedro Porro.
Lolosnya dua klub ini memang bisa dibilang mengejutkan. Terlepas dari level lawan-lawannya yang memang punya kualitas pemain di bawah keduanya, namun baik MU dan Spurs saat ini performanya memang tak begitu baik di liga. Keduanya menempati posisi 15 dan 16 di klasemen liga. Hanya satu strip di atas jurang degradasi.
MU punya masalah mentalitas. Pelatih mereka Ruben Amorim sedang membenahi itu. Secara skill dan kualitas pemain, sebenarnya si Setan Merah punya segalanya di semua lini. Namun entah mengapa, apapun yang diterapkan Amorim seperti tak berjalan. Hal itulah yang ditebus di Liga Europa. MU seperti punya DNA juara dan bermain dengan performa terbaiknya. Begitu pun dengan Tottenham di bawah asuhan Ange Postecoglou. Permainan mereka di liga sangat kacau. Bahkan dalam empat pertandingan terakhir, mereka tak bisa meraih 3 poin. Hanya mencatatkan 3 kali kalah dan 1 kali imbang.
Namun di Eropa, Spurs justru tampil istimewa. Skema menyerang Ange tampaknya cocok dengan pertandingan di kompetisi ini. Hingga Spurs akhirnya lolos ke final.
Editor : A. Nugroho