MALANG KOTA- Manajemen Arema FC mengambil langkah tegas setelah insiden pelemparan bus Persik Kediri Minggu lalu (11/5).
Mereka berencana tidak berkandang di Stadion Kanjuruhan. Langkah itu merupakan bentuk kekecewaan terhadap ulah oknum suporter.
Mereka merasa, perjuangan untuk berbenah setelah tragedi Kanjuruhan sia-sia saat ini.
Citra klub yang coba dipulihkan kembali tercoreng akibat insiden pascalaga BRI Liga 1 pekan ke-32 tersebut. Karena itu, mempertimbangkan tidak bermain di Malang.
”Kami sudah berjuang sekuat tenaga dan upaya bertahan serta berbenah, tapi hasilnya seakan-akan kita tidak dihormati di sini,” ujar General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi kemarin.
Menurutnya, klub menghadapi berbagai tantangan menjaga eksistensi. Salah satunya finansial, akibat tidak bermain di Malang.
Selama masa-masa sulit itu, manajemen Arema FC selalu menjalankan semua arahan dan masukan.
Berbagai forum komunikasi sudah dilakukan antar stakeholder.
Baca Juga: Arema FC Masih Demam Panggung
Pelatihan-pelatih terkait panitia penyelenggaraan juga dilakukan.
Mereka mengklaim dari sisi produksi pertandingan, manajemen telah melakukan berbagai peningkatan.
Disesuaikan dengan regulasi dan kebutuhan rencana pengamanan (renpam). Menurutnya, laga lawan Persik dan charity lalu menelan dana lebih dari Rp 1 Miliar.
”Dari sisi produksi semua upgrading. Mulai ring satu, ring dua, sampai ring empat sesuai regulasi dan kebutuhan renpam,” paparnya.
Berangkat dari itu, Arema FC mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas insiden tersebut. Oknum suporter harus ditangkap dan diungkap motif pelemparan.
Tujuannya, supaya kejadian serupa tidak terulang. Pihak Singo Edan enggan terus menjadi sasaran yang selalu disalahkan.
Padahal sudah melakukan usaha membuat laga aman dan nyaman.
Dalam insiden pelemparan itu, Inal menyoroti terkait standar pengamanan pertandingan. Harapannya dilakukan evaluasi.
Baca Juga: Sulit Perkasa Saat Lawan Klub Jatim di Derby Jatim, Arema FC Baru Menang Sekali dalam Dua Musim
Itu menyusul, insiden terjadi di zona 4 Stadion Kanjuruhan yang merupakan ranah pihak keamanan bertugas. Nanti saat tidak berkandang di Malang, ada banyak opsi homebase Arema FC.
Mulai kembali bermain di Stadion Soepriadi, Blitar dan bermain di Pulau Dewata. Menggunakan Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.
”Kami belum memutuskan itu (kepastian kandang). Harapannya semua harus berbenah,” paparnya.
Menurutnya, saat kecewa dengan hasil seharusnya dilimpahkan ke elemen tim. Bukan kepada pihak lawan.
Baca Juga: Gantikan Wiebie, GM Arema FC Isi Posisi Manajer sampai Laga Terakhir
Di tempat terpisah, Koordinator Presidium Arema Utas Muhammad Ali Rifki mengatakan, sangat menyesalkan insiden tersebut.
Menurutnya, tidak sepatunya terjadi setelah tragedi kelam 1 Oktober 2022 lalu.
”Kami dari organisasi Arek Malang Mania mengutuk keras insiden pelemparan bus pemain,” paparnya.
Menurutnya, semua elemen seharusnya sportif di setiap pertandingan. Artinya mau menerima hasil di semua laga.
”Kami mendorong pihak keamanan segera menindak oknum yang melakukan pelemparan,” paparnya. (zan/gp)
Editor : Aditya Novrian