RADAR MALANG – Simon Tahamata Kepala Pemandu Bakat Timnas Indonesia punya gambaran tentang talenta seperti apa yang akan dia bidik. Dia punya sejumlah kriteria di mana anak-anak Indonesia nantinya bisa mengikuti seleksi dan terpilih sebagai penggawa Timnas Indonesia.
Saar diwawancarai awak media di sela latihan Timnas Indonesia di Stadion Madya Gelora Bung Karno Senin (2/6), Simon Tahamata mengatakan sejumlah hal yang harusnya dimiliki pemain profesional sejak muda.
“Mulai di bawah 8 tahun, karena kalau 13 tahun, 15 tahun, itu sudah terlambat,” ujar mantan pemain Ajax Amsterdam dan Timnas Belanda keturunan Maluku.
Dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar, Simon yang satu dekade terakhir menangangi tim Ajax Junior membutuhkan anak-anak Indonesia untuk membentuk skuad tangguh di masa depan.
Menurutnya, tak perlu anak-anak Indonesia harus memiliki badan seperti pemain-pemain Eropa. Namun dengan diimbangi dengan beberapa aspek, mereka yang punya tubuh sepertinya, bisa bersaing di level tertinggi. “Saya juga tidak tinggi, tapi bisa melawan yang tinggi-tinggi,” ujar Simon yang hanya memiliki tinggi 164 sentimeter.
Daripada fokus di tinggi badan, Simon ingin mencari pemain yang memiliki dua kaki yang sama baiknya, teknik bermain bola yang bagus, hingga mereka yang punya mental pemenang. Aspek-aspek itulah yang menjadi atribut pemain profesional yang sukses. ”Juga harus pintar,” tegasnya.
Simon Tahamata sendiri mau terjun sebagai pemandu bakat timnas karena dirinya percaya di Indonesia banyak sekali talenta berbakat. Menurutnya, Indonesia tak pernah kekurangan talenta brilian.
Karena itulah dia percaya dengan bakat yang tersebar di sejumlah daerah, ke depan akan terbentuk Timnas Indonesia yang bagus. “Saya tidak mau dari luar Indonesia, fokus di sini saja,” bebernya yang sangat mengutamakan pemain lokal.
Dari sisi strategi, seperti pelatih dari Belanda lain, Simon juga punya strategi permainan yang bakal dikembangkan di tim muda. “4-3-3,” tandasnya.
Simon Tahamata memang cukup dikenal di era 80-an. Dikenal sebagai pemain sayap yang cepat, dia melalang buana di Eropa. Baik bersama Ajax, Standard Liege, Feyenoord, Beerschot, dan Germinal Eceren. Total 144 gol dan 23 assist dia ciptakan. Bahkan dia pun masuk Timnas Belanda dan mencatatkan 22 caps bersama dengan 2 gol.
Dari segi kepelatihan, sejak tahun 1996 dia banyak berkarir melatih tim-tim junior. Termasuk sepuluh tahun terakhir sejak 2014 di mana Simon dipercaya mengasah bibit-bibit unggul Ajak Amsterdam yang banyak menelurkan pemain kelas dunia.
Editor : A. Nugroho