RADAR MALANG - Kalah 1-0 dari Vietnam dalam babak final AFF di kandang sendiri membuktikan satu hal bagi Timnas Indonesia U23. Mereka belum cukup pantas menyandang gelar juara atau menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.
Vietnam masih menjadi batu sandungan yang harus dilewati sakitnya. Banyak catatan dari laga final ini yang bisa jadi pelajaran berharga.
1. Pentingnya Peran Playmaker
Absennya Arkhan Fikri dari starting line up Timnas karena belum fit sangat terasa pengaruhnya. Penggawa Arema FC itu punya peran besar dalam mengoneksikan antar lini. Skill playmakingnya yang di atas rata-rata menjadi tumpuan distribusi bola.
Tanpa Fikri, aliran bola di lini sentral tersendat. Apalagi Vietnam menumpuk pemainnya di tengah. Menghambat skema serangan lewat titik vital. Mereka memaksa Indonesia bermain melebar. Di sanalah jebakannya. Vietnam langsung melancarkan pressing begitu pemain Garuda Muda berada di salah satu sisi lapangan.
Tak jarang mereka melakukan sapuan dan tekel keras. Bila terjadi lemparan ke dalam, dan itu biasanya diambil Robi Darwis, pemain Vietnam sudah siap mengantisipasi. Termasuk kecenderungan untuk langsung mengirim bola direct ke kotak penalti.
Timnas perlu pemain lain dengan karakter seperti Arkhan Fikri. Pencarian harus dilakukan segera.
Pemain muda seperti Welber Jardim harusnya bisa mendapat kesempatan. Begitu pula mereka yang bisa dimaksimalkan di kelompok umur seperti Marcelino, Rafael Struick, hingga Justin Hubner. Masak alasannya selalu 'turnamen ini bukan kalender FIFA?'
2. Bukan Ajang Coba-Coba
Ya, bisa jadi skema yang diterapkan Gerald Vanenburg karena melihat opsi pemain yang fit. Dony Tri Pamungkas digeser agak ke tengah. Posisinya di sektor kiri ditempati Frengky Missa. Kurang ideal.
Namun stok pemain yang terbatas mungkin jadi kendala. Sepertinya pemain masih kagok dengan perubahan semacam ini. Dony lebih bagus bila ditempatkan dalam posisi naturalnya di kiri. Akibatnya, permainan seperti tak berjalan maksimal.
Karenanya, dibutuhkan banyak uji coba tambahan untuk memantapkan tim sebelum turnamen. Persiapan TC panjang ternyata belum cukup untuk menyiapkan skema cadangan bila kondisi skuad tidak benar-benar 100 persen.
3. Jens Raven Terkurung
Menjadi ujung tombak dalam skema tiga penyerang memang keunggulan sekaligus tantangan bagi striker seperti Jens Raven. Dia unggul jika disokong skema yang solid. Sayap yang cepat dan kerap melakukan penetrasi. Lini tengah yang kreatif dan punya umpan presisi.
Masalahnya, jika dua hal itu tidak terpenuhi, maka Jens Raven akan terisolir. Tanpa pasokan umpan, dia hanya akan berlarian ke sana ke mari dan tak tahu harus berbuat apa. Kuncinya adalah mempersempit jarak permainan. Juga mencari pemain yang pintar memanfaatkan ruang antar lini. Konektivitas antara menyerang dan bertahan Timnas perlu jauh ditingkatkan.
Namun apapun itu, final AFF U23 ini jelas menjadi pelajaran berharga bagi Timnas Indonesia.
Mereka yang menjadi harapan masa depan jutaan fans bola Tanah Air harusnya bisa segera berbenah agar mampu tampil lebih baik dalam turnamen-turnamen mendatang.
Editor : A. Nugroho